"Menikmati" Kesulitan Hidup...  

Posted by Ahmad Arafat in ,

Sore tadi waktu main ke PIM (Pondok Indah Mall) 1 mampir ke Gramedia...
Setelah searching-searching, nemu buku yang menarik hati...

Judulnya: "The Road Less Travelled", karangan M. Scott Peck, terbitan UFUK Publishing. (Note: gambar di bawah hanya ilustrasi, bukan menggambarkan cover buku yang sebenarnya).


Agak kaget pas liat buku tersebut.
Serasa de javu dengan judulnya, dan juga nama pengarangnya.
Gw ingat betul, di sebuah tulisan (karya ilmiah) yang pernah gw buat, ada kutipan perkataan (quote) dari si M. Scott Peck yang dicuplik dari buku yang sama: "The Road Less Travelled". Saat itu quote itu hanya dipakai sebagai pelengkap tulisan dan penutup paragraf aja.

Gw kira buku yang dirujuk itu ("The Road Less Travelled", kita singkat aja TRLT biar gampang yaa?) adalah buku serius, berat, dan berbau-bau social-political, secara karya tulis yang waktu itu gw buat bertemakan tentang "Civil Society". Ternyata, pas tadi baca-baca bukunya di Gramedia --setelah melihat langsung rujukan aslinya-- buku ini termasuk kategori PSIKOLOGI.. Wah, gw paling demen ama buku-buku berkategori Psikologi dengan genre motivasi/inspirasi/refleksi seperti ini...

Buat yakinin diri... Gw coba baca dari depan --setelah gw baca komentar dan pujian di halaman belakang.

Ternyata struktur tulisannya sederhana: buku setebal 416 halaman ini hanya terdiri dari empat bab/bagian saja. Pada bagian pertama yang berjudul "DISIPLIN" terdapat berbagai sub-bagian dengan judul yang bervariasi. Bagian kedua diberi judul "CINTA", serta "PERKEMBANGAN" dan "BERKAH" di urutan ketiga dan pamungkas.

Gw langsung buka halaman pertamanya...

Di bab 1 : DISIPLIN, pada sub-bagian pertamanya terpampang judul berikut: "Masalah dan Rasa Sakit". Sampai membaca judul itu belum ada yang spesial. Tapi apa yang tertulis selanjutnya lebih menggugah dan "mencerahkan".

Pada paragraf pertama, yang hanya memiliki satu kalimat, tertulis :


"Hidup itu sulit."

Beuhhh... Disini perasaan dan fikiran saya terhenyak!
Sambil membatin aku berkata: "ini tulisan kok NEGATIVE THINKING amat yaa...kagak salah tuh?"

Namun, mengikuti silogisme dan deskripsi berikutnya dalam tulisan ini membuat aku terkesan dan tak bisa untuk tidak setuju...

Penulis memaparkan dengan lugas bahwasanya seringkali manusia membayangkan bahwa "seolah-olah hidup itu biasanya mudah, seolah-olah hidup itu seharusnya [dijalani dengan] mudah [saja]". Maka ketika hidup kita dihadapkan dengan berbagai masalah --yang menurut penulis "hidup adalah serangkaian masalah"-- otomatis rasa sakitlah yang ditimbulkan... Dan seperti setiap orang normal lainnya, saya dan Anda tentu tidak suka dengan rasa "sakit" ini..

Dari sini, ketika masalah sudah dianggap sebagai "biang rasa sakit", beragam carapun diambil sebagai pelarian terhadap gangguan "rasa sakit" tersebut.. Parahnya, kebanyakan manusia berusaha menghilangkan "rasa sakit" itu (bukan "masalah"nya) dengan cara pandang yang tidak semestinya digunakan. Dan cara pandang seperti ini pada gilirannya membuat hidup menjadi [lebih] sulit. Ini karena cara pandang tersebut meyakini bahwa PROSES menghadapi [maupun dalam rangka "menyelesaikan"] berbagai permasalahan adalah sesuatu yang menyakitkan. Berikutnya yang muncul adalah serangkaian mata-rantai permasalahan-permasalahan baru yang -tentunya- membuat hidup menjadi terasa jauh lebih sulit dan kompleks untuk dijalani.. Depresi, frustasi, kesedihan, kedukaan, kesepian, dan lain sebagainya adalah contoh "efek berantai" dari masalah tersebut.

Jadi, alih-alih untuk menghadapi masalah-hidup dengan berani dan jujur, acapkali kita terjebak pada "jalan singkat" (shortcut) yang membutakan mata [hati dan pikiran]. Dengan berharap bahwa "jalan singkat" itu akan membuat kita "lebih cepat merasa lebih baik", kita pun membenarkan berbagai penyangkalan dan pengingkaran kita terhadap fakta kehidupan yang paling murni: bahwa hidup itu sulit. bahwa hidup tak selamanya indah.

Menurut penulis, fakta "ini adalah sebuah kebenaran luar biasa, dan salah satu kebenaran terbesar [dalam kehidupan umat manusia]. Begitu kita mengakui kebenaran ini, maka sebenarnya kita telah bisa [minimal, menurutku, LEBIH SIAP] mengatasi kesulitan itu. Begitu kita benar-benar memahami dan menerima bahwa hidup itu sulit, maka hidup menjadi lebih mudah untuk dijalani. Sebab, kita telah bisa menerima fakta tersebut sehingga hal itu tidak lagi menjadi masalah".

Namun demikian, kebanyakan orang tidak melihat kebenaran ini secara utuh. Dengan demikian, sebagian besar orang-orang tidak memahami hakikat dari fakta-kehidupan tersebut. Bahwa sesungguhnya "masalah adalah keuntungan menyakitkan yang membedakan antara keberhasilan dan kegagalan" - atau dengan kata lain, menurut bahasa saya sendiri, "masalah adalah mekanisme alami untuk membedakan mana 'pemenang' mana 'pecundang'.. masalah adalah prosedur sejati untuk menentukan siapa saja dari kita yang telah belajar dari [masalah] hidup dan menjadi dewasa serta bijak karenanya".

Memahami konsepsi tersebut di atas tentulah amat sukar bagi mereka yang masih memandang setiap "masalah kehidupan" sebagai sebuah 'masalah' -- yang dalam konteks ini dicirikan dengan adanya symptom/gejala "rasa sakit" (mulai dari bentuknya yang paling ringan, yakni sekedar "keluhan", hingga yang paling akut; depresi, frustasi, paranoid, dst.). Makanya, sejak awal, penulis TRLT telah menyodorkan sebuah pegangan penting untuk memahami dan memecahkan setiap masalah yang mungkin melanda kita. DISIPLIN. Inilah ide pertama dan utama yang dianjurkan oleh penulis pada kita. Penulis ini yakin, bahwa disiplin adalah seperangkat peralatan dasar yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan hidup. Tanpa disiplin, jelasnya, kita tidak [akan] dapat memecahkan dan menyelesaikan apapun!

**

Nah, sampai disini saya sejenak mencoba untuk berkontemplasi, mengambil refleksi, dan melakukan sedikit elaborasi...

Terasa sebuah kebenaran universal dari apa yang dikatakan oleh penulis TRLT. Bahwa ia menyatakan "hidup itu sulit", bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi saya... Saya sendiri, sebagaimana juga besar kemungkinan Anda, melalui pengalaman hidup yang spesifik dan unik dari tiap-tiap individu, bisa segera memahami dan menyadari bahwa hidup ini sungguh tidak mudah...

"Cari hidup itu susah, bung!", kata para kernek bus yang sibuk berjuang memeras keringat dan membanting tulang --hampir-hampir dalam arti literal yang sebenarnya-- setiap harinya..

"Cari kerja itu gak gampang jaman sekarang!", ujar para pengangguran lulusan perguruan tinggi yang jumlahnya kian meninggi dewasa ini..

Begitulah, kita dihentakkan dengan berbagai fenomena dan kenyataan di sekitar dan tengah-tengah kita bahwa terlepas dari berbagai "keindahan dan kenikmatan hidup" --yang biasanya hanya dinikmati segelintir kalangan manusia-- hidup ini ternyata menyebalkan! LIFE IS SUCKS!

Tapi tunggu dulu.. kalo memang demikian adanya, lalu apa yang salah???

CARA PANDANG kita lah yang salah, kawan...

Ya, orang-orang yang berakal dan berkeyakinan lurus akan mudah memahami bahwa hidup di dunia -yang sementara ini- hanyalah gemblengan, ujian, dan saringan bagi kita: untuk menentukan sejauh mana kita bisa memeroleh pelajaran, memahami kebijaksanaan, dan menapaki tangga-tangga kemuliaan. Dan hidup inilah panggung sandiwara akbar untuk melihat siapa yang memerankan peran antagonis, siapa yang beruntung mendapatkan peran protagonis...

Kalau kita menerima premis yang menyatakan bahwa "hidup setelah mati adalah sesuatu yang pasti", maka tak akan terlalu sulit bagi kita untuk menerima kenyataan hidup bahwa ia (hidup) itu dipenuhi dengan berbagai kesulitan. Maka, seyogyanya, ketika kita mendapati bahwa "hidup itu sulit", kita pun memahaminya dengan sebuah alasan: "karena hidup adalah ujian". Celakanya, masih ada saja orang-orang yang sakit, yang menolak memahami hal ini, karena pikiran dan hatinya telah dipenuhi berbagai nafsu yang mendorongnya untuk hanya menjalani kehidupan "yang enak-enak saja"... Walhasil, ketika sedikit kesulitan menerpa, kita melihat orang-orang ini begitu sering mengeluh, begitu cepat bermuram durja, begitu gandrung untuk mencari berbagai 'pelarian' ataupun 'jalan pintas' atas berbagai masalahnya...

Saya setuju bahwa DISIPLIN adalah kekuatan dasar yang harus kita miliki untuk berhadapan dengan berbagai jenis masalah... Tanpanya, semua usaha akan terlihat sia-sia dan tak bermakna... Namun, saya rasa penulis kurang memasukkan unsur transedental/spiritual dalam pembahasan ini. Yakni bahwa setiap orang yang beragama (beriman) meyakini bahwa ada "hari esok", hari untuk mendapatkan pembalasan (entah berupa "punishment" or "reward") atas semua yang telah kita lakukan di dunia. Bahwa pada awalnya, nenek moyang manusia (Adam dan Hawa) diturunkan dari surga yang indah dan penuh kenikmatan hanya karena berbuat satu kesalahan --atau, saya lebih mau menyebutnya, "hanya karena gagal melalui satu kesulitan".

Maka sepantasnyalah kita memandang "masalah" sebagai 'bukan masalah' (Problem?? No problemo!). Dengan demikian, masalah bukanlah sesuatu yang dianggap TABU ataupun begitu MENAKUTKAN... Masalah adalah "peluang", "kesempatan" dan "ajang" untuk mengungkap jati diri sejati kita --apakah kita termasuk "pemenang" ataukah "pecundang"?-- untuk mengetahui sampai dimana tingkat kesadaran dan kebijaksanaan kita, dan untuk mengukur dan menentukan sendiri "derajat" kemuliaan kita di antara sesama manusia dan di Mata-Nya.

Maha Suci ALLAH yang berbelas abad yang lalu telah menggariskan konsepsi yang serupa dengan yang dinyatakan oleh M. Scott Peck ini. Di dalam Al-Qur'an surah Al-Insyirah (Kelapangan/Kemudahan) disebutkan dengan gamblang bahwa :

"DAN SESUNGGUHNYA BERSAMA KESULITAN
ADA KEMUDAHAN. SESUNGGUHNYA DI BALIK KESULITAN ITU
ADA KEMUDAHAN"
.

Bukan main! Ayat tersebut sudah menunjukkan kepada kita bahwa "kesulitan" itu memang harus dihadapi, dan ketika kita menghadapinya, niscaya yang kita dapatkan adalah jawaban (kemudahan/jalan keluar) dari masalah tersebut. Ada fakta yang menarik memerhatikan susunan kalimat ayat itu.

Pertama, kalimat :
SESUNGGUHNYA BERSAMA KESULITAN ADA KEMUDAHAN diulang sebanyak dua kali. Adanya unsur pengulangan ini menyiratkan bahwa yang namanya kesulitan pasti akan silih berganti dan berulang-ulang "menyapa" hari-hari kita. Jika sesuatu itu disebut berulang kali, tentunya hal yang diulang-ulang itu adalah hal yang penting untuk diperhatikan. Dan ketika masalah "kesulitan" ini ditekankan secara berulang, maka sepertinya kita harus menyadari bahwa perkara "kesulitan/masalah hidup" sejatinya adalah perkara yang amat sangat penting dalam perjalanan hidup manusia...

Kedua, mendahulukan menyebut kata "kesulitan" (baca: masalah) daripada kata "kemudahan" sebagai lawannya. Agak aneh melihat hal ini, sebab, sependek pengetahuan saya, Al-Qur'an adalah salah satu kitab yang "sangat optimistis" (contoh: kabar tentang orang-orang beriman/beruntung senantiasa didahulukan dari golongan lawannya, perkara kebaikan selalu diutamakan disebutkan sebelum perkara keburukani). Al Qur'an bisa saja berkata: "Kemudahan selalu menyertai kesulitan", "kemudahan selalu ada di balik kesulitan"... toh artinya sama saja, bukan?? Namun, di sinilah saya sepertinya menemukan satu lagi bentuk ke-mukjizat-an kitab suci Al Qur'an: bahwa ia memberikan kita satu rahasia... Dan rahasia itu adalah bahwa: kita tidak akan pernah memperoleh kemudahan/jalan keluar dalam bentuk apapun sebelum kita melalui (menghadapi) masalah tersebut. Intinya, "masalah ada untuk dihadapi, bukan untuk diratapi, bukan untuk 'dicueki'...". Wah, kembali mengaitkan persepsi ini dengan konsepsi mister M. Scott Peck sebagaimana dalam 'ulasan buku' di atas akan menunjukkan kepada kita keserupaan-pandangannya...

Ketiga, "the last but not least", Al Qur'an --khususnya dalam surah Al-Insyirah-- mengajarkan kepada kita untuk senantiasa POSITIVE THINKING... Lihatlah, surah ini dinamai surah "kelapangan/kemudahan", bukan dinamai dengan surah "kesempitan/kesulitan" --padahal isinya bercerita tentang dua hal tersebut. Inilah satu lagi karakter sejati kitab suci ini, yang menjadi pandu bagi orang-orang yang menjaga kalbu, bahwa ia memberikan kita motivasi/inspirasi dengan "perkataan yang baik". Dan perkataan manakah yang lebih baik daripada perkataan yang menyiratkan OPTIMISME maupun POSITIVE THINKING???

Well, Anda tentu belum puas dengan kolaborasi tulisan ini... Saya pun belum puas.. Saya baru memulai perjalanan untuk membaca, menekuri, dan memelajari kandungan di dalam buku TRLT tersebut. Jika Anda adalah orang yang peduli dengan diri sendiri, dan dengan masa depan yang akan disongsong nanti, saya sarankan Anda untuk ikut membaca buku berharga ini. *Maaf, bukan titipan pesan sponsor lho... :D

Setidaknya, saya masih harus membuktikan pujian yang dialamatkan pada buku TRLT ini :

"Buku ini seperti magnet spontan untuk menumbuhkan kebahagiaan sejati".
~The Washington Post~

"Barangkali tidak ada buku pada generasi sekarang ini yang mampu memberikan dampak yang begitu besar seperti The Road Less Travelled. Singkatnya, buku ini sebanding dengan Think & Grow Rich karya Napoleon Hill karena banyak buku psikologi generasi sekarang mengutip
The Road Less Travelled"
.

Membaca komentar kedua ini, membuat saya agak tergelitik oleh dua hal. Pertama, Buku ini disebut-sebut sejajar (sebanding) dengan "Think & Grow Rich"nya Napoleon Hill. Saya bertanya-tanya, seperti (atau, sebagus) apa gerangan buku Napoleon Hill itu??? Sebab, meski tahu ada buku itu, saya belum sempat (baca: mau) untuk membacanya... Dan kedua, dikatakan buku (TRLT) ini banyak dikutip dimana-mana. Dari sini saya menjadi penasaran, kira-kira, perkataan M. Scott Peck yang saya kutip dari buku TRLT itu ada di bagian mana yaa??

Anda mau tahu apa kutipan yang saya ambil dan masukkan dalam tulisan saya dulu??
Perkataannya kurang lebih seperti ini --semoga saya tidak terlalu lupa:

"Masalah besar yang menimpa seseorang manusia (ataupun, sebuah bangsa) ialah berfikir secara sempit/parsial. Bahkan [bisa jadi] kegagalan untuk berfikir sama sekali. Inilah akar masalah dari berbagai masalah yang kita hadapi."

Kurang lebih seperti itu kutipannya... Well, saya tidak mau mengecewakan diri sendiri...
Saya ingin terus melanjutkan membaca dan menyerap saripati ilmu dan intisari kebijaksanaan yang dikandung buku TRLT ini..

Semoga setelah habis melahapnya, akan ada kesadaran baru, yang berujung pada perubahan perilaku (menjadi lebih baik), perbaikan pola hidup, dan di atas segalanya --seperti yang buku ini janjikan-- mampu "menyulap Anda menjadi pribadi yang menakjubkan sekaligus mengantarkan Anda menuju kedamaian dan kesempurnaan hidup". Terlalu ambisius dan klise kedengarannya, memang... Namun, ahh, aku tak ambil pusing... Ini toh bukan masalah bagiku...

Remember: "PROBLEM?? NO PROBLEMO!!"... :D

Salam Perubahan demi Perbaikan...

Jakarta, 29 Juni 2009
[1:42 AM]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan 8 Dirham  

Posted by Ahmad Arafat in

Suatu hari, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bermaksud hendak menuju ke pasar.

Beliau membawa 8 keping dirham untuk dibelikan pakaian dan beberapa perabot rumah
tangga. Belum sampai di pasar, beliau menemukan seorang wanita yang sedang menangis.

Beliau lalu berhenti dan mendekati wanita tersebut untuk menanyakan apa yang sedang
terjadi, atau apakah sesuatu yang buruk telah terjadi padanya?

Wanita itu adalah seorang budak, dan ia mengatakan bahwa ia baru saja kehilangan uang 2
dirham – yang ditiitipkan oleh tuannya. Wanita itu takut bahwa ia akan dihukum dengan
berat oleh tuannya akibat menghilangkan uang tersebut. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa
sallam kemudian mengeluarkan uang 2 dirham dari kantong baju beliau dan memberikan
uang tersebut kepada si budak wanita.


Kini hanya tersisa 6 dirham di tangan beliau. Segera kemudian beliau membeli pakaian yang
beliau senangi, sebuah gamis, dari pasar – dimana beliau lalu melihat seorang manula yang
tengah berteriak di tengah-tengah kerumunan orang banyak: ”Siapapun yang memberiku
pakaian yang layak, [aku berdoa semoga] Allah akan memberinya ganti pakaian yang lebih
baik!”.

Rasul kita kemudian melihat orang tua tersebut dan menyadari bahwa pakaiannya memang
sudah sungguh jelek dan dalam kondisi yang sangat tidak layak pakai. Beliaupun dengan rela
mengambil baju gamis yang baru saja dibelinya, lalu menyerahkannya kepada orang tua
tersebut. Rasul kita kini tidak jadi memiliki pakaian baru yang beliau idam-idamkan.

Sambil berjalan gontai, Rasulullah bermaksud untuk kembali ke rumahnya – namun di
tengah jalan beliau kembali bertemu dengan wanita yang tadi telah diberinya 2 dirham. Rasul
dengan sabar menanyakan keadaan wanita itu yang tidak mau kembali ke kediamannya.
Wanita tersebut takut jangan-jangan ia akan dihukum dengan keras lantaran terlambat
pulang. (Pada masa-masa itu, para budak tak ubahnya diperlakukan bagaikan binatang.
Berbagai hukuman dan penderitaan fisik yang mereka terima merupakan hal yang lumrah
dan sungguh biasa).

[Akan tetapi, adalah beliau diutus untuk menjadi pembela dan penolong bagi orang-orang
yang lemah]. Rasulullah kemudian dengan senang hati menemani wanita tersebut kembali
pulang ke tempatnya berasal. Setelah tiba di tempat yang dituju, Rasul mengucapkan salam,
sekali tanpa jawaban, lalu kedua kalinya tetap tiada yang membalas salamnya. Barulah pada
salam yang ketiga terdengar ada yang menyahut. Beliau kemudian mengungkapkan maksud
kedatangannya. Beliau mengatakan bahwa budak yang pulang bersamanya itu begitu takut
terhadap hukuman yang mungkin diterimanya.

Rasul kita kemudian berkata, ”jika budak wanita ini bersalah sehingga harus dihukum, maka
biarkanlah saya yang menanggung/menerima hukuman tersebut.” Mendengarkan pernyataan
Rasul yang tulus tersebut, para penghuni rumah tersebut menjadi kagum sekaligus takjub.
Mereka merasa bahwa mereka telah mendapatkan pelajaran yang sangat penting dari Sang
Rasul. Maka, pada akhirnya mereka pun memutuskan, ”budak wanita ini kami bebaskan
(merdekakan) karena (mengharap pahala dari) Allah.”

Rasul pun kemudian menjadi sangat gembira mendengar hal tersebut. Beliau bersyukur atas 8
dirham yang paling bernilai yang pernah beliau ”belanjakan”. Dengan [hanya] 8 dirham
tersebut beliau telah memperoleh keuntungan memerdekakan seorang budak belian bernilai
ribuan dirham. ”Belum pernah sebelumnya saya menyaksikan nilai dari uang sebesar 8
dirham setinggi/semulia seperti ini”, beliau berkata. [Dengan 8 dirham itu] Allah telah
memberikan perlindungan bagi orang yang ketakutan, memberikan pakaian bagi seseorang
yang telanjang, dan memberikan kemerdekaan bagi seorang budak.

------------------------

Sahabat dan saudaraku – yang semoga kita semua dirahmati dan disayangi olehNya – marilah kita mengambil hikmah dan pelajaran berharga dari kisah tersebut di atas. Lihatlah betapa Rasulullah menaruh perhatian yang begitu besar terhadap mereka yang ”tak berdaya” dan ”tak berada”. Rasulullah begitu ber-empati dan mengasihi setiap mereka yang memerlukan ”uluran tangan” dan ”pertolongan”. Rasulullah bahkan tak segan mengorbankan kepentingan pribadinya demi mendahulukan kebutuhan orang lain, serta berani menjadi ”tumbal” untuk menggantikan hukuman seorang hamba-sahaya...!! Maka, tak berlebihanlah kiranya jika Sang Tuan Semesta Alam memuji beliau : ”Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung”.1 Maka, marilah kita berusaha sebaik mungkin – sekuat tenaga dan sepenuh daya – untuk berupaya mengikuti jejak kebaikan beliau, karena ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...”.2 Serta, pada akhirnya, marilah kita berdo’a setulus mungkin dan berniat sekuat mungkin untuk menjadi ”agen-agen kebaikan” yang mau mengasihi dan begitu peduli dengan mereka yang lemah, orangorang kecil yang tak berdaya, saudara-saudara kita yang membutuhkan pertolongan. Tak peduli berapa dirham (baca: rupiah) yang mampu – atau, mau – Anda sisihkan untuk mereka, sebesar (atau, sekecil) apapun itu – semoga itu menjadi jalan untuk memperbaiki (minimal: menyambung) hidup mereka. Tidakkah kita merasa wajib memberikan uluran tangan itu?? Ingatlah, ”Allah akan senantiasa menolong urusan seorang hamba, selama hamba tersebut menolong hamba-hambaNya yang lain.”3


Jakarta, 27 November 2008 [22:24]

End-notes : 1 Qur’an surah Al-Qalam : 4. 2 Qur’an surah Al-Ahzab : 21. 3 Diambil dari sebuah Hadits Qudsi.

Jangan PHK orang MALAS!!!  

Posted by Ahmad Arafat in

KRISIS GLOBAL...
RESESI EKONOMI...
HARGA MINYAK JATUH...
RUPIAH MELEMAH...
INDUSTRI COLLAPSE...
RATUSAN BAHKAN RIBUAN ORANG TERANCAM PHK!!!


Yaah, mungkin frasa-frasa tersebut di atas akhir-akhir ini sering menghiasi berita-berita di media massa. Berita yang terdengar, terbaca, dan terlihat itu seakan menjadi menjelma sebagai sosok monster yang menakutkan - dan sangat menyeramkan.

Beberapa milis yang saya ikuti akhir-akhir ini menjadi hangat akibat diskusi yang mengangkat tema-tema seputar krisis ekonomi yang melanda Amerika Serikat - dan menciptakan kekhawatiran luar biasa bahwasanya krisis tersebut juga akan menjangkiti Indonesia, lalu memberi pengaruh dalam sisi-sisi kehidupan kita...

Seorang pekerja swasta di saat seperti ini selalu merasa bagaikan telur di ujung tanduk, sebab bencana PHK besar-besaran bisa saja mengancam dirinya... PHK bagi mereka yang merasakannya, tentunya merupakan mimpi buruk yang menjadi kenyataan - sebuah bencana yang luar biasa - seperti kiamat kecil yang datang memanggil...

Pertanyaannya adalah, siapa - atau, orang seperti apa - kah yang pantas untuk di-PHK manakala PHK menjadi satu-satunya pilihan ???

Saya tergelitik dengan pikiran usil saya sendiri, ketika otak kanan saya mengajukan jawaban yang sedikit menyimpang dari kebiasaan...

Menurut hemat saya, ketika suatu PHK (entah dalam skala kecil ataupun besar) terjadi, maka karyawan yang patut, pantas, dan perlu segera di-PHK adalah mereka yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Cerdas/Pintar
  2. Tekun/Rajin
  3. Ulet
  4. Kreatif
  5. Berani
  6. Optimis, dan
  7. Relijius
Nah lho...??? Bingung?? Apakah saya serius??? [Serius!]

Anda belum mengerti?? Mari, ikuti penjelasan di bawah ini... :D

Biasanya, perusahaan memilih karyawan yang mereka kategorikan sebagai "benalu", "parasit", atau yang sejenisnya-lah yang mereka PHK-kan. Ya, secara praktis, orang-orang tersebut diwakili oleh atribut seperti berikut : "malas", "bodoh", "tidak becus terhadap pekerjaan", dan seterusnya ...... [just fill in the blank]. Kenapa perusahaan melakukan hal itu?? Logis, sebab perusahaan menilai, dengan mem-PHK-kan semua orang dengan sifat seperti itu, perusahaan menganggap telah mengurangi beban perusahan, telah memperbaiki struktur pekerja, serta berharap bisa meningkatkan produktivitas dan efisiensi perusahaan. Wajar....

Tapi, saya kurang setuju dengan penalaran seperti itu...

Menurut saya, dan yang saya kira jauh lebih baik, ialah perusahaan harusnya memecat, memberhentikan, dan mem-PHK-kan setiap karyawan yang memiliki ciri seperti telah saya sebutkan di atas... Kenapa????

Sekarang, mari kita coba me-rekonstruksi dan memproyeksikan apa yang akan terjadi apabila :
a. Perusahaan memecat karyawan terburuknya
b. Perusahaan memecat karyawan terbaiknya

Ad. a) Perusahaan memecat karyawan terburuknya.

Ketika perusahaan memberhentikan pekerja-pekerja yang malas, useless, incompetent, dan seabrek-abrek atribut [negatif] lainnya, pada saat yang sama perusahaan telah berkontribusi ke dalam upaya mengacaukan kehidupan sosial-ekonomi pada umumnya. Mari kita bayangkan, apa yang bisa dilakukan "orang-orang buangan" tersebut untuk menghadapi hari-hari esoknya?? Apa yang dapat mereka perbuat untuk memperbaiki kehidupannya?? Apa yang mampu mereka jalankan demi meraih cita-cita dan mimpi-indahnya?? Hampir pasti: NONE!

Dari perspektif perusahaan, secara tinjauan ekonomis, dalam timbangan produktivitas, secara subjektif: pem-PHK-an karyawan yang seperti itu memang bermanfaat. Tetapi, dalam eskalasi yang lebih luas... Apa yang telah dilakukan oleh si perusahaan tadi sejatinya seperti menyebarkan virus-penyakit ke tengah-tengah masyarakat. Sebagai imbasnya, masyarakat - yang sudah merasakan berbagai penyakit - akan semakin menjadi sakit. Sakit... sakit... hingga kemudian menjadi sekarat, lalu [kemungkinan terburuknya] mati!

Bayangkan skenario semisal ini:

"Seorang Bapak yang telah berkeluarga, memiliki 4 anak.. Ia telah bekerja di perusahaan A selama 10 tahun.. Ia memang tidak memiliki skill khusus yang membuatnya 'bernilai' di mata manajemen perusahaan... [Mungkin] hanya karena dulu ia punya 'kenalan' orang dalam ia bisa bekerja di perusahaan itu selama bertahun-tahun.. Tiba-tiba, tak ada angin tak ada hujan.. Iapun di-PHK! Si Bapak tak tahu lagi harus kemana mengadu nasib, tak tahu lagi harus pergi ke 'ladang' mana untuk mencari rejeki... Sementara tanggungannya banyak... Pasca di-PHK, Sang Kepala Keluarga tersebut hanyalah menjadi orang yang terlunta-lunta, papa dan tak berdaya".

Nah, itu contoh skenario yang bisa kita bayangkan akan terjadi... Skenario tersebut bisa saja kita "perindah" jika dibumbui dengan 'adegan' kekerasan, kriminalisme, depresi, dan berbagai "suasana negatif" lainnya. Akibatnya buruk, bukan??

Ad. b) Perusahaan memecat karyawan terbaiknya.

Anda yang membaca tulisan ini (eitss.. tunggu dulu.. saya bertanya-tanya juga nih, apakah para pembaca tulisan saya ini adalah orang-orang yang masuk kategori "a" atau "b" ? hehehe, just answer your self... i don't need to know... but, if you let me know... you know me lah, we can share our secret together... :D) mungkin sudah bisa menebak arah pembicaraan tulisan ini..

Maka, saya akan lompat ke skenario berikutnya:

"Seorang Bapak (bapak lagi?? kok "Bapak" lagi?? "bapak" dong! // Yaa iya laah... Mulan aja Jamee Lagi, bukan Mulan Jamee Dong! hohoho).... *Ehm..ehm.. Lanjut, seorang Bapak yang telah bekerja 10 tahun di perusahaan B. Disana ia sudah mencapai posisi Asisten Manajer. Setahap lagi, ia dapat menjadi manajer di perusahaan tersebut (Tentu, si Bapak bisa berada pada posisi yang sekarang ini bukan dengan bermodalkan dengkul belaka, tapi karena banyak akal, dan sederet kualitas pribadi positif yang dimilikinya... Anggaplah 7 sifat di atas dimiliki semua oleh Bapak ini)...

Sekarang, perusahaan sedang memilah dan ingin memilih siapa-siapa saja yang akan jadi 'korban' PHK. [Meskipun ini jarang terjadi di dunia nyata - tapi kita asumsikan saja ini betul-betul terjadi:] Akhirnya, si Bapak termasuk 'korban' yang menerima keputusan PHK tersebut. Dengan uang pesangon seadanya, ia terpaksa melepaskan jabatan dan pekerjaannya di perusahaan itu...". [to be continued...]

Lalu, pertanyaannya, apakah yang kira-kira saja terjadi pada diri (dan juga keluarga) sang Bapak tersebut?? Apakah keadaannya serupa dengan keadaan Bapak pada skenario yang pertama di atas??

Well, menurut saya..."Tentu Tidak!".
Ingat, kawan-kawan... Bapak tadi punya 7 kualitas positif... Biar ingat lagi, inilah kualitas tersebut:
  1. Cerdas/Pintar
  2. Tekun/Rajin
  3. Ulet
  4. Kreatif
  5. Berani
  6. Optimis, dan
  7. Relijius
Sekilas, kalau hanya melihat konteks cerita sebelumnya, dan mengasosiasikan dengan "pemahaman" kita sehari-hari... Mengetahui bahwa Bapak tersebut di-PHK adalah sesuatu yang berkonotasi negatif, buruk bin sial. Tapi, biarkanlah saya menunjukkan kepada "Bapak-Bapak Sekalian" bahwa PHK yang dialami oleh si Bapak bukanlah 'kutukan'...

Fakta : Kena PHK!
Tapi, karena dasar si Bapaknya pintar/cerdas, ada banyak kemungkinan yang bisa terjadi pasca PHK tersebut.. Dan, hasilnya, bisa beragam. Entah baik dan entah buruk. Cuman, singkatnya, bermodal kepintaran/kecerdasan yang dimilikinya, sang Bapak bisa saja:
  • Mencari pekerjaan yang lebih baik (melamar ke perusahaan B, C, D, dan seterusnya, dimana mungkin saja ia mendapatkan posisi dan jabatan yang lebih ''bermartabat'').
  • Membuat pekerjaan yang lebih baik (membuka warung-bisnis-usaha baru, atau "modus-kejahatan" baru dengan IQ-nya yang super-tinggi.
Nah, mengingat si Bapak ini rajin dan ulet.. bisa kita katakan, setiap usaha/pekerjaan baru yang digelutinya pasti akan berbuah hasilnya.. Plus, KREATIVITAS... wah, beruntung sekali kalo kita memiliki kualitas yang satu ini. Soalnya, berbekal kreativitas, "apa saja" bisa terjadi: laksana memiliki mantra super ampuh "SIM SALABIM...ABRA KADABRA...". Ditambah lagi, ke-BERANI-an dan sikap OPTIMIS niscaya merupakan "bahan bakar" yang menjadi jaminan kesuksesan. Dan, terakhir, inilah kualitas yang akan menenangkan hati siapa saja yang memilikinya.. Yang menjadi benteng terakhir pertahanan jiwa dari setiap bisikan syaithan yang menyerang: Relijius (atau, dengan kata lain: spiritualitas).

Yah, entah apa yang terjadi dengan si Bapak ini...
Namun, yang pasti... pastinya nih.... si Bapak tidaklah menemui 'kiamat'nya ketika ia di-PHK.

Dan, terlebih lagi... dalam skala yang lebih luas, secara makro-kosmos... pengaruh di-PHK-nya si Bapak ini bagi lingkungan sekitar (baca: masyarakat) nya bisa lebih POSITIF.
Taro lah dia membuat bisnis, usaha baru --> Bukankah dengan begitu akan menciptakan lapangan kerja bagi para pengangguran??
Anggaplah dia bekerja di perusahaan lain --> Bukankah dengan begini ia akan mendapatkan pengalaman baru, kenalan baru, dan hidup baru??

Dan seterusnya, dan seterusnya..dan seterusnya....
Silahkan meneruskan kisah sukses ini sesuka hati Anda...

=====

Jadi, saya rasa saya telah menjelaskan silogisme yang saya ikuti - sehingga saya membuat judul tulisan seperti di atas:

JANGAN PHK ORANG MALAS!!!

Karena, jika demikian, Anda (Baca: Sang Empunya Perusahaan) telah menghancurkan masa depan dan hidup sebuah keluarga... Sebuah keluarga yang tak berdaya, dimana sebelumnya telah Anda lindungi dan santuni dengan murah hati... Oke, memang betul ditempeli "benalu" itu bikin malu.. Tapi, apakah tidak lebih memalukan lagi kalau kita membiarkan "benalu" tersebut menempel di "pohon-pohon kehidupan" yang lebih tinggi??

Akan tetapi sebaliknya... Ketika Anda mem-PHK orang yang TIDAK MALAS... Anda harus tahu, bahwa Anda telah membuka jalan bagi dia untuk menemukan jati dirinya.. Untuk mencari kembali 'panggilan alam'nya.. Dan, percayalah... Ketika orang seperti ini "dilepaskan"... Sesungguhnya mereka bukanlah "pesakitan" yang akan menjadi serba-tidak-berdaya... Mereka adalah para survivor yang siap berperang... dan MENANG!!!

Jadi, [pertanyaan saya] buat perusahaan - yang ingin melaksanakan PHK : "Mau pilih yang manaaa?"

Lalu, buat Anda-Anda - sang Karyawan : "Mau di PHK, nggak???".

Saya hanya berharap mendengar satu-dua suara berani di ujung sana: "PHK?? Siapa Takut??!!".




Ketika Hidup Berada di "Persimpangan Jalan"...  

Posted by Ahmad Arafat in


Kehidupan sejatinya adalah sebuah perjalanan.
Perjalanan panjang untuk menuju kampung halaman idaman;
Perjalanan yang lama dan melelahkan demi mencapai sebuah tujuan; Perjalanan yang berliku dan penuh ancaman di setiap langkah kehidupan.




Akan halnya sebuah perjalanan, kehidupan pun tak selamanya dilalui dengan lancar/bebas hambatan. Ada kalanya kita hanya bisa terdiam, terhenti dan tertahan - tanpa bisa terus berjalan. Seperti layaknya pengendara sepeda motor yang menunggu "lampu hijau" di traffic light, atau laksana pejalan kaki yang menanti waktu yang tepat untuk bisa menyeberang jalan. Ya, hidup kita, di sepanjang perjalanan yang telah-sedang-dan akan terus kita tempuh senantiasa dihadapkan pada "persimpangan jalan".

Setiap lembar kisah perjalanan kehidupan kita di atas muka bumi ini tak mampu menafikan adanya suatu masa, sebuah fase, dimana kita lebih cenderung bersifat statis-pasif-[bahkan] konservatif. "Persimpangan jalan" yang ada pun kadang-kadang memaksa kita untuk menjadi ragu, bisu, kaku hingga takut untuk memutuskan "ke mana kaki harus melangkah". Alih-alih meneruskan perjalanan yang masih panjang membentang, "persimpangan jalan" tersebut bisa saja membuat perjalanan kita tersendat-sendat, terlambat, bahkan gagal total!

Begitu banyak, amat sering, dan terlampau luas eksistensi "persimpangan jalan" ini dalam hidup kita sehari-hari. Ketika seorang pejabat dengan segala kewenangan dan kekuasaan jabatannya dihadapkan pada pilihan KORUPSI atau TIDAK-KORUPSI, di saat itu ia sebenarnya ada di "persimpangan jalan". Ketika seorang ilmuwan dengan segala kapasitas ilmunya diharuskan memilih antara berlaku JUJUR/AMANAH dan BOHONG/KHIANAT sesungguhnya ia pun sedang berada di "simpang jalan". Bahkan, ketika seorang jejaka merasa bimbang antara sikap MENYATAKAN CINTA ataukah HANYA TERDIAM SAJA terhadap dara yang didambanya, itupun sebuah ilustrasi "ke-simpang-an pilihan".

Tidak hanya berhenti disitu saja, Kawan!
Seringkali pilihan yang kita hadapi -dan harus kita pilih- ketika kita berada di "persimpangan jalan" bukanlah sebuah pilihan boolean1 belaka, melainkan sebuah pilihan dengan multi-dimensi, multi-variabel/parameter, dan multi-implikasi. Inilah yang membuat pilihan kita menjadi rumit. Ini pulalah yang bisa melumpuhkan semangat juang kita - yakni ketakutan akan kenyataan bahwa: terdapat begitu banyak alternatif yang harus kita pilih; terdapat begitu banyak hal yang harus dipertimbangkan; terdapat begitu banyak peluang melakukan satu kesalahan.

Mari kita ambil sebuah contoh.
Awalnya adalah ayah kita. Suatu waktu ia dihadapkan pada pilihan (baca: berada di persimpangan jalan) untuk menikah. Untuk menikah, ia tentunya harus memilih siapa wanita yang akan menjadi calon istrinya - ibu bagi anak-anaknya. Disini, sang ayah bisa saja sudah kebingungan karena harus memilih 1 dari sekian milyar kaum hawa di bawah kolong langit ini (wow, Anda bisa bayangkan betapa banyaknya itu). Oke lah, populasi pilihan bisa saja merosot tajam - kalau ayah kita memfokuskan "area berburu" di komunitas tertentu saja: entah di lingkungan kantor, lingkungan sekolah, atau lingkungan kelurahan. Anggaplah setiap lingkungan tersebut memberikan kandidatnya masing-masing. Seorang rekan kerja wanita yang menawan, seorang kawan lama di sekolah yang cerdas, dan anak gadis pak Lurah. [Ingat,] setiap kandidat tersebut memiliki karakternya masing-masing dan membawa atribut yang berbeda-beda. Ayah kitalah yang paling bertanggung-jawab atas segala konsekuensi atas pilihan yang dijatuhkannya.

Maka, apa yang terjadi ketika sang ayah menikahi dan kemudian berumah tangga - yang pada gilirannya akan melahirkan dan membentuk kita - dengan salah satu dari ketiga kandidat tersebut akan sangat berbeda untuk tiap-tiap skenario pernikahan2. Kita, adalah produk dari lingkungan sekitar kita - dan dalam hal ini yang saya sebut sebagai lingkungan adalah lingkungan terkecil kita: keluarga (atau, yang secara khusus dapat diwakili oleh entitas "Ayah-Ibu").

Maka, seharusnya Anda bisa membayangkan beberapa3 kemungkinan (outcome) yang dapat terjadi berdasarkan satu-fase-kecil dalam kehidupan seseorang. Dimana kita berada pada satu kondisi - yakni dihadapkan pada beberapa pilihan yang berbeda-beda - untuk menentukan 1 pilihan di antara n4 variabel-pilihan. Jelaslah, satu keputusan yang diambil dalam satu titik dalam 'garis-panjang' perjalanan hidup seorang manusia bisa memengaruhi - atau bahkan - merubah konfigurasi, bentuk, dan orientasi dari goresan-tinta atas 'garis-panjang5 kehidupan'nya.

Bagaimana, Kawan? Saya harap Anda belum bosan bersama saya. Mungkin Anda bertanya-tanya: "apa gerangan yang ingin kau sampaikan, anak muda?". Sabar, wahai Kawan. Sebentar lagi saya akan mengutarakan maksud di hati yang tersisa...

Uraian panjang di atas hanya menggambarkan kepada kita begitu peliknya kehidupan yang harus kita jalani ini. Ilustrasi cerita sebelumnya6 menunjukkan bahwa rentetan perjalanan kehidupan ini tersusun dengan begitu kompleks - [sungguh] sangat kompleks. Lalu, mungkin Anda menjadi gusar dan kemudian bertanya. "apa yang harus kita lakukan di tengah kehidupan yang serba pelik nan kompleks ini? Kami juga tahu bahwa hidup sekarang itu serba-susah dan penuh misteri!".

Dan, inilah pesan-utama yang ingin saya sampaikan padamu, wahai Kawan!

"Anda tidak diciptakan untuk menjadi orang susah, makhluk celaka, tidak juga hamba yang sengsara! Engkau diberikan ke-hidup-an bukan dengan maksud agar hidupmu Engkau habiskan hanya di 'persimpangan jalan'. Namun, sesungguhnya Engkau diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan, setinggi-tingginya kemuliaan, demi mereguk kenikmatan-kebahagiaan-kemenangan! Engkau telah dianugerahi nafas untuk hidup, agar Engkau sanggup men-ja-lan-i ke-hi-dup-an ini dengan baik dan [melewatinya dengan] selamat. Karena, 'hidup itu untuk dijalani', maka 'berjalanlah'! Dan, [karena kehidupan adalah perjalanan7] hanya orang-orang yang berjalanlah yang dikatakan benar-benar 'hidup'. Berjalanlah terus, dan janganlah memperpendek umurmu dengan sering berhenti di persimpangan. Sekali lagi, berjalanlah! Karena..."

Hanya orang yang telah menempuh perjalanan jauh lah, yang akan melihat jalan panjang menuju kampung halaman idaman.8

Hidup [ini] adalah perjalanan. Dan, perjalanan seorang muslim tidak akan pernah berhenti sampai ia berada di depan gerbang Surga.9


Selamat menikmati perjalanan... hingga ke keabadian.

Jakarta,
06 November 2008
[22:27]

Salam tulus,


Ahmad Arafat Aminullah



End-notes :


1 Boolean Logic merupakan sebuah logika pengambilan keputusan dimana pilihannya selalu hanya ada dua - dan kedua pilihan tersebut sifatnya berlawanan. Contoh aplikasi dari logika ini : ON/OFF, 1/0, YES/NO, DEAD/ALIVE, dan seterusnya.
2 Bagaimana jika seandainya saya menawarkan sebuah skenario baru. Dimana, ayah kita mengambil semua pilihan yang ada [baca: ber-poligami]. Bisakah Anda bayangkan, betapa kompleksnya probabilitas asal-usul genetis kita? Bisakah Anda menentukan dengan pasti bahwa Anda merupakan hasil percampuran antara 1 (di antara sekian-juta) sel-sperma ayah dan 1 sel-telur ibu? Oke, itu [memang] hanya 1 sel telur [ibu], tapi dari ibu yang mana? Kemungkinannya yang bisa muncul sungguh tak-terkira jumlahnya.
3 Disini sebenarnya saya melakukan eufemisasi terhadap kata beberapa. Untuk memeroleh efek yang lebih besar, silahkan menggantinya dengan kata berbagai, atau bahkan berjuta-juta!
4 Dengan n adalah bilangan bulat dari 0,1,2,3 - hingga tak berhingga.
5 Jika kita memang berumur panjang.
6 Dan percayalah, Anda bisa saja mengembangkan ilustrasi cerita tersebut menjadi beribu-ribu karangan
dengan cerita yang sama sekali berbeda!
7 Sebagaimana telah dikemukakan dalam pembuka tulisan ini.

8 Diadaptasi dari sebuah Pepatah Korea.

9 Diadaptasi dan dikompilasi dari syair Ahmad Syauqi Bey [Hidup itu adalah perjuangan] dan Ahmad bin
Hanbal [Perjuangan seorang muslim tidak akan berhenti sampai kedua kakinya menginjak surga]

Hikayat Pohon Ara dan Batu  

Posted by Ahmad Arafat in ,

~~ Pohon Ara ~~


Alkisah pada suatu saat di sebuah negeri di timur tengah sana. Seorang saudagar yang sangat kaya raya tengah mengadakan perjalanan bersama kafilahnya. Diantara debu dan bebatuan, derik kereta diselingi dengus kuda terdengar bergantian. Sesekali terdengar lecutan cambuk sais di udara. Tepat di tengah rombongan itu tampaklah pria berjanggut, berkain panjang dan bersorban ditemani seorang anak usia belasan tahun. Kedua berpakaian indah menawan. Dialah Sang Saudagar bersama anak semata-wayang nya. Mereka duduk pada sebuah kereta yang mewah berhiaskan kayu gofir dan permata yaspis. Semerbak harum bau mur tersebar dimana-mana. Sungguh kereta yang mahal.

Iring-iringan barang, orang dan hewan yang panjang itu berjalan perlahan, dalam kawalan ketat para pengawal. Rombongan itu bergerak terus hingga pada suatu saat mereka berada di sebuah tanah lapang berpasir. Bebatuan tampak diletakkan teratur di beberapa tempat. Pemandangan ini menarik bagi sang anak sehingga ia merasa perlu untuk bertanya pada ayahnya. "Bapak, mengapa tampak oleh ku bebatuan dengan teratur tersebar di sekitar daerah ini. Apakah gerangan semua itu ?".

"Baiknya pengamatanmu, anak ku", jawab Ayahnya, "bagi orang biasa itu hanyalah batu, tetapi bagi mereka yang memiliki hikmah, semua itu akan tampak berbeda". "Apakah yang dilihat oleh kaum cerdik-cendikia itu, Bapak ?", tanya anaknya kembali. "Mereka akan melihat itu sebagai mutiara hikmah yang tersebar. Memang hikmah itu berseru-seru di pinggir jalan, mengundang orang untuk singgah, tetapi sedikit dari kita yang menggubris ajakan itu.". "Apakah Bapak akan menjelaskan perkara itu pada ku?"

"Tentu buah hatiku", sahut Sang Saudagar sambil mengelus kepala anaknya. "Dahulu, ketika aku masih belia, hal ini pun menjadi pertanyaan di hati ku. Dan kakekmu, menerangkan perkara yang sama, seperti saat ini aku menjelaskan kepadamu. Pandanglah batu-batu itu dengan seksama. Di balik batu itu ada sebuah kehidupan. Masing-masing batu yang tampak oleh mu sebenarnya sedang menindih sebuah biji pohon ara." "Tidakkah benih pohon ara itu akan mati karena tertindih batu sebesar itu, Bapak ?"

"Tidak anakku. Sepintas lalu memang batu itu tampak sebagai beban yang akan mematikan benih pohon ara. Tetapi justru batu yang besar itulah yang membuat pohon ara itu sanggup bertahan hidup dan berkembang sebesar yang kau lihat di tepi jalan kemarin". "Bilakah hal itu terjadi Bapak ?" "Batu yang besar itu sengaja diletakkan oleh penanamnya menindih benih pohon ara. Mereka melakukan itu sehingga benih itu tersembunyi terhadap hembusan angin dan dari mata segala hewan. Sampai beberapa waktu kemudian benih itu akan berakar, semakin banyak dan semakin kuat. Walau tidak tampak kehidupan di atas permukaannya, tetapi dibawah, akarnya terus menjalar. Setelah dirasa cukup barulah tunasnya akan muncul perlahan. Pohon ara itu akan tumbuh semakin besar dan kuat hingga akhirnya akan sanggup menggulingkan batu yang menindihnya. Demikianlah pohon ara itu hidup. Dan hampir di setiap pohon ara akan kau temui, sebuah batu, seolah menjadi peringatan bahwa batu yang pernah menindih benih pohon ara itu tidak akan membinasakannya. Selanjutnya benih itu menjadi pohon besar yang mampu menaungi segala mahluk yang berlindung dari terik matahari yang membakar."

"Apakah itu semua tentang kehidupan ini Bapak ?", tanya anaknya.

Sang Saudagar menatap anaknya lekat-lekat sambil tersenyum, kemudian meneruskan penjelasannya. "Benar anakku. Jika suatu saat engkau di dalam masa-masa hidupmu, merasakan terhimpit suatu beban yang sangat berat ingatlah pelajaran tentang batu dan pohon ara itu. Segala kesulitan yang menindihmu, sebenarnya merupakan sebuah kesempatan bagi mu untuk berakar, semakin kuat, bertumbuh dan akhirnya tampil sebagai pemenang. Camkanlah, belum ada hingga saat ini benih pohon ara yang tertindih mati oleh bebatuan itu. Jadi jika benih pohon ara yang demikian kecil saja diberikan kekuatan oleh Sang Khaliq untuk dapat menyingkirkan batu diatasnya, bagaimana dengan kita ini. Dzat Yang Maha Perkasa itu bahkan sudah menanamkan keilahian-Nya pada diri-diri kita. Dan menjadikan kita, manusia ini jauh melebihi segala mahluk dimuka bumi ini. Perhatikanlah kata-kata ini anak ku. Pahatkan pada loh-loh batu hatimu, sehingga engkau menjadi bijak dan tidak dipermainkan oleh hidup ini. Karena, kita memang ditakdirkan menjadi tuan atas hidup kita."

***



My-Comment :

It's a one good story, you know...

It tell us to shifting our perception about "troubles that we are facing in this life"

Intinya adalah : "masalah yang menimpa kita sejatinya bukanlah beban yang akan mematikan dan meredam eksistensi kita...namun, ia adalah 'gemblengan' bahkan 'naungan' yang akan melindungi jati-diri kita, memberi kita kesempatan untuk tumbuh-berubah-dan menjadi kuat..hingga akhirnya timpaan itu dapat kita gulingkan, dan pada saat yang bersamaan kita akan mendapati bahwa diri kita telah bertransformasi sebagai pribadi yang tak mudah larut dalam kegelisahan; tak gampang frustasi oleh berbagai masalah; tak juga surut karena derasnya ujian"...

Semoga kita dapat menjadi seperti pohon Ara tersebut... ;)


*btw, lucu juga mengingat nama pohon yang fenomenal itu adalah [pohon] Ara - dimana namanya merupakan sebagian [suku]kata yang membentuk nama belakang saya.. Huehue (Narsis mode: ON)

*btw [lagi!], ternyata yang disebut sebagai buah [pohon] Ara itu adalah buah Tin/At-Tiin (atau "figs fruit" in english) - yaitu buah yang namanya disebutkan dalam kitab Suci Al-Qur'an (bahkan menjadi nama surah di dalamnya) dan diyakini memiliki khasiat dan keutamaan yang khusus.. Subhanallaaah..

Bertamu ke Ujung Waktu (memoar perjalanan ke Aceh)  

Posted by Ahmad Arafat in

Jum'at, 16 Mei 2008
# Prior-to-flight #

Hari ini saya ditugaskan untuk berangkat menuju Aceh, dalam rangka melaksanakan sebuah tugas dadakan yang dipercayakan kepada saya. Pemberian tugas ini sekaitan dengan posisi saya sebagai staf System Engineering di Lion Teknik, sebuah portofolio di antara dua portofolio lainnya (yakni Wings Air dan Lion Air) dari PT. Mentari LionAir Indonesia.

Pukul setengah tujuh kurang lebih saya sudah meninggalkan kosan di bilangan Jakarta Pusat itu, menuju stasiun gambir dengan menggunakan Busway. Rencananya, saya akan ke bandara naik DAMRI BANDARA saja. Pesawat yang saya tumpangi menuju Aceh schedule-nya berangkat pukul 08.40.

Pukul 08.10-an saya sudah sampai di kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Namun, sy tidak langsung masuk ke terminal 1A tetapi singgah dulu di kantor Administrator Bandara, untuk membuat Pas Masuk Harian Karyawan. Ini saya lakukan karena saya belum memegang tiket keberangkatan, hanya bermodal SPD (surat perjalanan dinas/Surat Tugas) saja. Tanpa tiket, saya tidak bisa masuk ke dalam terminal keberangkatan.

Setelah mendapatkan pas masuk, bergegas saya menuju terminal 1A. "Saya harus cepat-cepat, agar tak ketinggalan pesawat". Seperti biasanya, saya langsung memasuki lorong di bawah gate keberangkatan penumpang - bermaksud menuju ke wilayah Apron dimana ruang Lion Technic (khususnya Lion Maintenance) berada. Sebelum ke situ, saya menyempatkan diri untuk ke store terlebih dahulu demi mengambil beberapa buah test-kit yang saya perlukan.

Sesampainya di gedung Lion Technic -yang letaknya persis berhadapan dengan Apron terminal 1A dan di bawah ruang tunggu keberangkatan dari Gate A1(?)- saya langsung mendatangi ruangan Admintek. "P'misi.. ada ibu Lena, ga mbak?"... Saya mencari-cari orang yang berwenang meng-issuing tiket untuk keberangkatan saya nanti... "Ibu Lenanya belum datang, mas..Ada apa ya?", jawab dan tanya seorang mbak-mbak di ruangan itu. "Ini mbak, saya mau ke Aceh pagi ini... Buat nge-issue tiket gimana ya..?", aku menyatakan maksudku mencari bu Lena. "Ohh, ke mas Aris aja, mas", katanya... "di [ruang] MCC yak?", sergahku.. "Iya", balasnya.

Segera aku menuju ke ruang MCC menemui orang yang dimaksud. Setelah menunjukkan SPD-ku, mas Aris mempersilahkan saya langsung menuju ke pesawat saja... "Tiket, nanti dibawain sama orang operasi, mas.. Langsung ke pesawat aja mas.. Lima-India-Mike.. udah mau berangkat tuh", ujarnya... Melihat bahwa waktuku sudah kepepet, akupun langsung ke luar menuju Apron mencari pesawat dengan registrasi tersebut.

Setelah berjalan hingga ke ujung Apron, barulah saya sampai di pesawat yang dimaksud... Sesampainya di atas pesawat, saya terkejut... Pesawat masih kosong melompong... Hanya beberapa orang cabin [maintenance] yang ada di pesawat, sedang duduk-duduk tanpa kutahu sedang mengerjakan apa mereka... Ketika saya bertanya kepada salah seorang diantara mereka, sambil memperkenalkan diriku, dia menjawab bahwa kru (awak) pesawat belum ada.. "Kalo begini, pasti delay nih pesawat, minimal sejam lah", kata seorang engineer yang kutahu bernama pak Tommi itu - yang juga akan ikut menuju Aceh.

Mengetahui pesawat mengalami delay, saya pun kembali menuju gedung Lion Maintenance... Saya lalu memasuki ruangan Engineering & PPC. Kebetulan laptop engineering sedang ON, dan menganggur. Langsung saya pasangkan flashdisk yang saya bawa ke laptop tersebut, lalu mulai mencari-cari file EA (Engineering Authorization) -sebagai rujukan pelaksanaan tugas berupa fuel test di lapangan- yang dimaksud. Nihil, filenya kucari-cari tak ketemu juga. Beruntung sebelumnya saya sudah meng-SMS pak Sony -my GroupLeader- meminta dikirimkan file EA tersebut via imel saja.

Tak lama kemudian, mas Aris memasuki ruangan Engineering & PPC itu, dan mencariku... Ia mengajakku masuk lagi di ruangan MCC, untuk memberikan Voucher Hotel, ia lalu menyarankanku untuk kembali ke pesawat. Setelah berpamit-pamitan dengan rekan-rekan di ruangan MCC itu, dan setelah mengiyakan akan membawakan oleh-oleh sekembaliku dari Aceh nanti, saya pun beranjak keluar lagi, menuju pesawat, menunggu keberangkatan...

Sesampaiku di atas pesawat, sudah terlihat beberapa pramugari LionAir yang sedang sibuk berbenah-benah di dalam kabin. Seorang pramugari menyadari kedatanganku, lalu bertanya kepadaku, "mas ikuuut?"... "iya, mbak..", jawabku kalem. "Mekanik?", tanyanya lagi... "Bukan, mbak.. Engineer...". Cakep-cakep gini dibilang mekanik, ogah dong.. *hehe, narsis kumat nih*. Pramugari itu lalu meneruskan pekerjaannya mempersiapkan kabin sebelum para penumpang boarding. Aku hanya duduk-duduk sendirian di atas pesawat, sembari sesekali memperhatikan para pramugari itu bekerja. Agak jengah, akhirnya aku memutuskan turun juga dari pesawat, mencoba mencari hal-hal yang menarik di ground.

Kutemui pak Tommi yang nampaknya sedang melakukan inspeksi/pengecekan pesawat yang sebentar lagi akan berangkat. Saya pun ikut melihat-lihat...

Beberapa saat kemudian, para penumpang pun sudah diijinkan naik ke pesawat. Penerbangan yang tertunda seperti ini pasti membuat para penumpang resah atau bahkan marah. Satu demi satu para penumpang tersebut sudah menaiki pesawat. Beberapa pramugari mengarahkan para penumpang untuk mencapai tempat duduknya, beberapa yang lain masih sibuk mengurus kelengkapan di kabin. Setelah beberapa lamanya, pesawat pun akan segera diberangkatkan. Untuk terakhir kalinya, para pramugari berkoordinasi dengan orang ramp memastikan jumlah penumpang yang onboard, termasuk dua orang Engineer On Board (saya dan pak Tommi)...

Pintu pesawat pun ditutup sudah, pertanda penerbangan menuju Aceh akan segera dijalankan. Seperti biasa, para pramugari mengumumkan beberapa hal kepada penumpang, lalu memeragakan cara-cara penyelamatan diri dalam keadaan darurat.

Pesawat pun sudah selesai ditowing keluar apron, siap untuk terbang setelah taxing di runway (landasan pacu). Setelah mesin pesawat disetting pada maximum thrust, pesawat pun melaju dengan kecepatan tinggi, terus melaju di landasan pacu, hingga akhirnya... berhasil take-off menuju angkasa raya.. Fiuhh, benar-benar pengalaman yang sensasinya menegangkan sekaligus menyenangkan. Terbang, bagi saya, adalah hal yang sangat menakjubkan. Berada di atas pesawat, yang berada di atas bumi, mengembara di bawah kolong langit, melintasi awan-awan, merupakan hal yang begitu berkesan dan rasanya hampir tak mungkin untuk dilukiskan. Sekali lagi, kecerdasan dan pengolahan akal-budi manusia telah mampu menciptakan sebuah wahana yang mencengangkan: "besi yang melayang di udara"..

Perjalanan menuju Aceh pun sudah dimulai, dan perjalanan itu akan ditempuh selama 2,5 jam. Pesawat yang kami tumpangi itu beregistrasi PK-LIM. (FYI, seluruh armada maskapai penerbangan yang terdaftar di Indonesia registrasi pesawatnya selalu berawalan "PK"). PK-LIM yang dioperasikan oleh LionAir ini terdiri atas kelas Bisnis dan Ekonomi. Berhubung kelas bisnisnya kosong, saya dan pak Tommi pun berkesempatan duduk di seat kelas bisnis. Ahh, kursinya lega bo', lega dan lebar.. Very nyaman dan sangat comfort lah pokoknya.. :D

Gak hanya itu, saudara-saudara. Berhubung kita-kita menyandang status "Engineer On Board", pelayanan yang kita terima dari pramugari juga beda lho.. Beda lah ama pelayanan ke penumpang biasa... Seorang pramugari, bernama mbak Dian Utari, datang kepada kami dan menanyakan mau makan dan minum apa? Well, tawaran itu nggak kami tolak.. Berhubung saya dan pak Tommi sama-sama belum sarapan, dan kebetulan kata mbak Dian ada stock ayam goreng K#C (maap, gak bermaksud promosi, hehe), jadilah kami disuguhi makanan berat on the air. Ditemani secangkir kopi plus krimer plus gula, saya menikmati makan pagi (yang kesiangan itu) di atas angkasa... Umm, yummy... Thank You for the kind service, mbak Dian.. (Btw, kaget juga lho waktu mbak Diannya bilang bahwa pramugari yang potonya dimuat di LionMag edisi April yang masih terpajang di depan kami itu adalah dia... wOw, "cakeupan aslinya", saya nyeletuk... "ya iya lah", kata mbak Dian sembari tersenyum...).

Perjalanan di angkasa itu pun tak terasa telah membawa kami tiba di bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh... Untuk pertama kalinya, saya menjejakkan kaki di tanah rencong itu, negeri yang terkenal sebagai Serambi Mekkah, juga tempat yang menggemparkan dunia dengan musibah Tsunami yang menelan banyak korban jiwa, serta wilayah yang dari dulu selalu dirundung konflik bertema dis-integrasi bangsa.

Ragam kompleks sejarah yang meliputi daerah inilah yang membuat saya tertarik mengunjungi daerah ini. Maka, ketika tawaran untuk melaksanakan Fuel Contamination Detection Test inipun datang, saya pun tak menolaknya. "Ada Udang di balik Beton", demikianlah kata peribahasa... Tugas yang harus saya laksanakan itu saya pikir relatif mudah dan singkat, sehingga sisanya, tentu bisa saya manfaatkan untuk melancong atawa jalan-jalan gratis di negeri orang.. "ahh, menyenangkannya...".

[bersambung ke tulisan berikutnya...]

Lelaki Patah Hati dan Bocah Pencari Rezeki...  

Posted by Ahmad Arafat in

Jakarta, 09 April 2008

*
Hari sudah berganti malam, hujan pun mengguyur jalan - di kota Jakarta yang selalu penuh keramaian. Seorang pemuda berjalan gontai keluar dari gedung bertingkat 12 yang berada di bilangan Harmoni itu, bermaksud pulang setelah seharian bekerja. Gerimis yang menitis seakan kompak dengan suasana hatinya yang miris. Ia, seorang pemuda, yang baru saja - untuk kali ke sekiannya - merasakan lagi yang namanya patah hati.

Ia biarkan tetes demi tetes gerimis menerpa wajahnya, jatuh di atas rambutnya. Ia jadikan dinginnya hawa sebagai teman perjalanan, dalam cerita tanpa kata-kata. Ia terus berjalan, sendirian... Hatinya gundah, jiwanya penat, dan rasanya resah, tiada bergairah - tidak seperti mana ia biasanya. "Life must go on", batinnya. Ia tak mau terjebak dalam keadaan yang tak menentu - meski perasaannya kini begitu mengganggu.

Kakinya baru melangkah beberapa meter dari tempat kerjanya, ketika ia melihat sesosok manusia berjalan di sampingnya. Manusia itu hanyalah seorang bocah, yang badannya basah kuyup disembur hujan, di tangannya tertenteng sebuah benda: payung. Entah dari mana bocah itu berasal, dan entah mau kemana pula bocah itu berjalan, pemuda yang kini memerhatikan anak kecil itu bertanya-tanya. Ia mafhum, anak itu - sebagaimana pemandangan yang biasa ditemuinya - adalah pengojek payung ketika hujan tiba. Di saat orang-orang menggerutu tak bisa pulang cepat karena terjebak hujan, di saat mereka sebal karena mereka harus naik taksi demi sampai ke rumah, di saat itu pula bocah-bocah itu berkesempatan mengais sebentuk rezeki yang ada....


"Dek, ojek payung ya..?", lelaki itu bertanya ke arah sang bocah. "Iya, om", jawabnya datar. "Berapa?", tanyanya membuka percakapan. "Terserah om saja", jawabnya pasrah. Lelaki itu tertegun, terkesan dengan sikap si anak. "Antar saya ke situ yuuk?", ajaknya. Tak lama kemudian, dirangkulnya anak kecil itu, sembari merapatkan dirinya bersama sang bocah, di bawah satu payung. Mereka pun berjalan beriringan...

"Kamu gak sekolah?"...
"Sekolah".
"Kelas berapa?"....
"Kelas Satu".
"SD?"...
"SMP".
"Tinggal di mana dek?"...
"Di belakang, di Petojo".

"Ooo....", sahut sang pemuda yang kian penasaran..
"Kok ngojek [payung], emang siapa yang nyuruh? Orang tua?", tanyanya...
"Pengen aja", jawabnya kalem.

Pertanyaan demi pertanyaan pun meluncur dari pemuda itu, yang perhatiannya kini tertuju pada seorang bocah kecil disampingnya. Entah apa yang membuat pemuda itu begitu perhatian pada sang bocah. Mungkin karena di mata pemuda, bocah itu dianggap seperti adiknya sendiri yang masih kecil, yang berada bermil-mil jauhnya di seberang pulau sana. Mungkin karena rasa iba. Mungkin karena ia hanya sekadar ingin berbicara. Atau, mungkin juga, karena ia ingin mencari 'pelampiasan' atas rasa yang dari tadi memenuhi rongga dadanya - rasa yang sedikit menyiksa.

Setelah mengobrol beberapa lamanya dalam perjalanan, sang pemuda mengajak Fadhli -nama anak itu- untuk singgah makan bersama-sama di sebuah warung tegal di samping suatu Plaza. Anak itu menolak, enggan. "Entar aja, om.. di rumah...", alasannya. "Gak pa pa, ayuuk, temenin oom makan. Om belum makan nih...", bujuk sang lelaki tak mau kalah. Beberapa kali dicoba dibujuk, anak itu tetap tak mau diajak makan.

Pemuda itu kian terkesan. Anak itu, masih kecil, namun telah paham akan arti kesederhanaan dan kehormatan (harga diri). Rasanya baru kali ini ia menemukan seorang bocah pengojek payung yang ketika ditanya soal tarif, hanya berkata "terserah om saja". Hal ini menunjukkan bahwa sang anak itu adalah orang yang mau menerima apa adanya (qonaah), khususnya yang berkaitan dengan pemberian orang lain. Ia tidak mematok standar harga, juga seolah tiada beban masalah uang balas-jasa. Suatu sikap yang rasa-rasanya makin langka ditemui di kota besar macam Jakarta - terlebih lagi dalam era kehidupan materialis dewasa ini.

Pemuda itupun terkesan dengan keteguhan anak kecil itu menjaga harga dirinya. Ia tidak bersikap seperti pengemis yang menjadikan rasa kasihan orang lain sebagai "bahan bakar" untuk mengeruk keuntungan. Ia tidak serta merta menerima tawaran - dari orang asing - meski tawaran itu tidak ada maksud [buruk] apa-apa. Sikap ini pun rasa-rasanya jarang kita dapati pada pribadi "orang-orang tinggi" itu...

Pemuda itu telah memasuki warung tenda itu. Hujan gerimis sudah tak lagi menitis. Tapi malam masih kelam, seperti hatinya yang kusam. Sang anak, dengan sopan berdiri menunggu di luar tenda. Ajakan lelaki itu untuk masuk makan bersamanya tidak digubrisnya. Lelaki itupun hampir putus asa untuk membujuknya, namun ia belum menyerah. Diajaknya lagi sang bocah, dibujuknya ia, diyakinkan kepadanya bahwa tidak apa-apa... tiada udang di balik tembok atas ajakannya tersebut, dan itu semua baginya adalah "gratis". Walhasil, anak santun itu luluh juga. Dengan malu-malu, ia pun duduk di samping pemuda yang sudah tak sabar ingin meredam perutnya yang keroncongan. Pemuda itu segera memesan nasi dan lauk pauk sekedarnya, sebagai makan malam, ditemani anak malam.

Adapun anak itu, masih terdiam malu, terduduk di samping lelaki itu... Badannya masih basah. Sesekali ia menyeka wajahnya yang polos dan lugu, cermin pribadi yang masih belum ternoda. Tangan kirinya menggenggam payungnya yang besar itu. Makanan pesanannya - dengan menu sederhana - itu telah diletakkan di hadapannya. Ia pun ikut makan, dengan satu tangan, sementara tangan yang lain tetap menggenggam erat payung yang dibawanya. Pemuda di sampingnya tersenyum simpul melihat tingkah 'adik' barunya itu.

Acara makan pun selesai. Dan, karena hujan sudah berhenti, pemuda itu menyangka bahwa mereka akan berpisah tak lama lagi. Sambil tetap berjalan mengarah ke kostannya, pemuda itu melanjutkan cengkramanya bersama sang anak. Di tengah perjalanan, sang pemuda bermaksud memberikan imbalan atas jasa ojek payung sang anak. Dia menolak. Setelah sebelumnya berterima kasih atas traktiran makan tadi, anak itu rupanya merasa tidak pantas lagi menerima imbalan apapun. Ia mungkin merasa apa yang diberikannya tidak sebanding dengan apa yang telah diterimanya. Ia mungkin tidak sadar, bahwa makan malam gratis itu adalah rezekinya, dan lembaran rupiah yang kini dipegangnya itu adalah haknya. Anak itu mungkin tahu diri, tapi pemuda itu juga tak mau setengah hati dalam memberi. Pemuda itu tulus ingin memberi, sebagaimana pemuda itu juga rela mengasihi... Dan, anak itu, hanya butuh membuka hati untuk menerima semua pemberian tanpa harus pusing dengan balas-jasa apapun.

Suasana pun telah mencair, dan kedua insan yang menuju pulang itu, kini masih berjalan bersama menyusuri perjalanan...

"Di sekolah pernah dapat rangking [kelas], gak?", selidiknya.
"Pernah, tapi nggak lagi...", jawab sang anak...
Sang pemuda pun berusaha memberinya semangat agar ia rajin belajar demi masa depannya. Ia pun bertutur tentang sedikit masa lalunya, latar belakang kehidupannya, hingga ia bisa menjadi seperti ia adanya kini.

"Fadhli muslim kan?", pancing si pemuda...
"Iya", tukasnya.
"Udah bisa mengaji (baca) Al Qur'an, beluum?", tanyanya lagi.
"belumm...
tapi udah [nyampe] Iqra' 6", sambungnya...
"ooh, bentar lagi dah baca Qur'an besar dong ya?"...
Sekali lagi pemuda itu mencoba menyuntiknya dengan 'serum' motivasi agar masa-masa mudanya diisi dengan kegiatan yang bermanfaat - dan kalau bisa berpahala.

Tak lama berselang, setelah pertemuan singkat itu, setelah perkenalan sesaat itu, setelah pengalaman yang berkesan itu.. mereka pun berpisah. Uniknya, mereka telah begitu jauhnya menempuh perjalanan bersama-sama - mengingat fakta bahwa tujuan pemuda dan anak itu tidaklah berlawanan arah (sebuah kebetulan yang tentu bukan 'kebetulan' belaka)...

Di benak pemuda itu lalu terbayang potret anak-anak maupun remaja masa kini dengan sejuta masalah yang menghantuinya: tawuran, kemiskinan, pendidikan, kejahatan, obat-obatan terlarang (narkoba), hingga seks-bebas yang kian rawan. Pemuda itu tidak ingin anak-anak yang masih "hijau" itu terbelit dengan berbagai problema. Alangkah buruknya masa depan mereka, jika kompleks-masalah itu terus membelilit mereka yang kian tak berdaya. Yaah, itu semua lah gambaran yang akan terjadi, ketika semua orang tak mau lagi peduli.. Peduli pada lingkungan sekitarnya, peduli pada orang-orang sekelilingnya, bahkan, peduli pada [keadaan] dirinya sendiri. Setidaknya, inilah langkah kecil yang bisa dilakukan oleh pemuda itu untuk ikut berusaha meminimalisir dampak negatif yang mungkin terjadi. Minimal, pemuda itu ingin menunjukkan kepada si anak tadi, bahwa selalu akan ada orang yang peduli - sehingga sang anak tak perlu berkecil hati, sang bocah tak pernah sendiri. Dan semoga, sekelumit spektrum kisah seperti itu, akan membesarkan hati sang anak, sehingga ia mau menatap dan menata kehidupannya dengan lebih baik - hingga akhirnya ia bisa memainkan peran sebagaimana sang pemuda menjalankan aksinya saat ini - suatu mata rantai kebaikan kolektif yang terus terjalin.

"Ahh... Tuhan begitu baik padaku.. Ia masih mengirimkan seseorang yang bisa menjadi 'sasaran' penyaluran rasa sayang itu...", fikir sang pemuda menerawang rasa...

Sesaat kemudian ia teringat lagi pada suasana hatinya, pada romansa jiwanya, pada perasaannya yang haru-biru... Tentang seseorang, tentang dia yang membuatnya gundah gulana...

Sejurus kemudian ia menemukan analogi, adanya kemiripan antara kejadian yang baru saja terlewati dan hakikat 'ikatan' dua-hati. Pemuda itu - lelaki yang sedang patah hati - sejatinya menawarkan hal yang sama yang telah diberikannya kepada anak tadi: ketulusan dan kasih-sayang. Karena ia ingin memberi dengan tulus, ia pun tak ambil peduli ketika apa yang diberinya tidak sepadan dengan apa yang diterimanya. Dan, karena ia hanya ingin mengasihi-menyayangi, ia pun tak begitu peduli apakah yang dikasihi-disayanginya itu memberinya kasih-sayang kembali atau tidak...

Meskipun begitu, patut diingat, bahwa ketika ketulusan yang kita berikan diterima dengan tulus pula - dan di saat kasih-sayang yang kita tawarkan dibalas dengan kasih-sayang yang serupa; di saat itu lah tercapai keseimbangan. Dan, bukankah keseimbangan, adalah asas paling kokoh demi terjaganya segala sesuatu dengan lestari..?

"Sayangilah [apa yang ada di bumi] - maka engkau akan disayangi [oleh apa yang ada di langit]"...



4.14 am
15 April 2008