“Success is not the key to happiness.
Happiness is the key to success.
If you love what you are doing, you will be successful”.
(Albert Schweitzer)
~
“Kesuksesan bukanlah kunci kebahagiaan. Kebahagiaanlah yang menjadi kunci kesuksesan. Jika Anda mencintai apa yang Anda lakukan, Anda akan menjadi sukses”.
Amat banyak orang berfikir bahwa meraih kesuksesan otomatis akan memberikan kita kebahagiaan. Mereka beranggapan bahwa kebahagiaan hidup terletak pada keberhasilan mereka “menjadi sukses”. Sayangnya, seringkali mereka menafsirkan “kesuksesan” itu sebanding dengan pencapaian-pencapaian yang bersifat “materiil” – harta, tahta, dan wanita. Hal tersebut kemudian menuntun mereka untuk mencapai “kesuksesan” tersebut dengan segala cara dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Walhasil, meskipun mereka berhasil meraih “kesuksesan [materiil]” tersebut, yang hadir bukannya kebahagiaan hati, melainkan kegersangan jiwa, kekeringan nurani, dan kehilangan jati diri. Tak jarang, kondisi ini berujung pada kegelisahan hidup yang memuncak menjadi depresi dan frustasi, lalu berubah menjadi problem kompleks yang tak berkesudahan. Sungguh mengenaskan...
Patut direnungkan bahwa kesuksesan bukanlah penentu kebahagiaan seseorang. Terdapat banyak indikator lain yang menentukan ke-bahagia-an tersebut. Kesuksesan, bisa jadi merupakan salah satu indikator kebahagiaan, namun jelas, kesuksesan bukanlah faktor dominannya. Bahkan apabila kesuksesan tersebut ternyata diraih dengan cara dan jalan yang tidak semestinya, sungguh hal ini akan menafikan ‘kesuksesan’ yang diraih sebagai tolok ukur kebahagiaan.
Kesuksesan yang sejati adalah kesuksesan yang diraih dengan cara yang jujur, bersih, sportif dan adil melalui jalan yang lurus, benar dan bijaksana. Kesuksesan yang hakiki ialah kesuksesan yang berporos pada acuan nilai-nilai, norma dan prinsip luhur yang berdasarkan pada kebenaran dan kebijaksanaan universal. Kesuksesan yang bernilai merupakan kesuksesan yang memiliki orientasi yang objektif, tidak subjektif dan ego-sentris, melainkan kesuksesan yang mengindahkan martabat dan harga diri orang lain, memperhatikan hak-kewajiban bersama, serta memberikan manfaat bagi sesama. Inilah kesuksesan yang sebenar-benarnya; kesuksesan yang membahagiakan - kebahagiaan yang menjadi bagian dari kesuksesan.
Kesuksesan yang demikian akan menjadi pemicu munculnya kebahagiaan yang nyata – dan keduanya kemudian tak terpisahkan bagai dua sisi dari satu mata koin. Kesuksesan yang membahagiakan tersebut berakar pada rasa cinta, sifat melayani, dan kecenderungan objektif untuk selalu seimbang, adil dan proporsional. Adapun kebahagiaan – yang menjadi penentu kesuksesan – sejatinya lahir dari sikap rendah hati, rasa menerima, toleransi dan pemahaman yang dalam serta pemaknaan yang tepat dalam memandang setiap perkara. Ketika kita mengerti betul hakikat dari kesuksesan dan kebahagiaan, niscaya kita tak akan menemui dikotomi di antara keduanya.
Sebagai penutup, saya teringat pada sebuah kisah saat saya mengikuti sebuah pelatihan “kecerdasan emosional dan spiritual”. Saya beruntung menjadi salah satu peserta – dari unsur mahasiswa – bersama para peserta lain dari Perwira Siswa (Pasis) SESKO AD. Dalam salah satu sesi yang berkesan itu, kami berpasang-pasangan, satu orang berangkulan dengan satu orang lainnya. Saya berangkulan dengan salah seorang Pasis – yang pernah terjun dalam operasi militer di Aceh dan berhasil menembak mati salah seorang komandan GAM.
Sesi itu diisi dengan menerapkan teknik psikologis yang disebut dengan “katarsis” – dimana tiap orang secara bergantian menepuk-nepuk punggung pasangannya dengan keras lalu menanyakan apa yang pasangannya inginkan dalam hidup ini. Ketika Pasis tersebut menepuk punggung saya lalu bertanya: “Apa yang kamu inginkan dalam hidup ini?”, saya saat itu hanya menjawab: “harta, uang”… Tak lama kemudian, diapun memberi nasehat yang bijak :
“Dek… janganlah menjadikan harta sebagai tujuan utamamu dalam hidup ini… Syukurilah apa yang ada, dan jangan memaksakan diri untuk mendapatkan apa yang tidak mampu kita peroleh. Ada seseorang, ia seorang eksekutif dengan jabatan dan harta yang berlimpah, tapi tidurnya tidak pernah tenang… Hidupnya selalu susah dan tidak enak… Dia punya rumah besar dan villa, tapi [karena kesibukannya] yang menikmatinya adalah pembantu-pembantunya… Ada juga seorang, petani yang tinggal di desa, kerjanya tiap hari hanya mengurus sawahnya, dari pagi hingga sore berpeluh keringat akibat bekerja… Hidupnya sederhana, dan tidak bergelimang harta.. tapi hidupnya tenang, bahagia dan sentosa… Ia tidak punya beban apa-apa, dan serasa tidak memiliki banyak masalah... Mending kita seperti petani di desa itu [yang hidupnya tenang dan tentram], daripada menjadi ‘orang berada’ namun selalu gelisah...”
Dalam suasana yang khidmat itu... tak terasa, saya meneteskan air mata mendengar penuturannya yang bersahaja… Sungguh, kisah sang petani, dan darma bakti sang Pasis “abdi negara” itu membuat saya terenyuh, tersadar, dan semakin paham; bahwa materi bukanlah ukuran kebahagiaan… Materi (uang/harta) mungkin bisa membeli segalanya – seperti kata sebagian orang – tapi hal ini tidak berlaku pada “kebahagiaan”… Sungguh, memiliki kearifan, kebijaksanaan dan kesadaran seperti ini jauh lebih bermakna dan berharga daripada memiliki pengetahuan, kecerdasan dan kekayaan yang “hampa”…
Saya kemudian bisa memahami, betapa para tentara kita yang, walaupun bergaji kecil dan hidup pas-pasan, tetap mampu mendedikasikan dirinya untuk berbakti kepada negara, mempertaruhkan nyawanya di dalam melaksanakan tugas menegakkan kedaulatan negara dan menjaga persatuan bangsa. Dan, betapa kondisi tersebut mereka terima dan hadapi dengan lapang dada seraya terus menjalankan tugasnya dengan bertanggung jawab dan gagah berani. Rupanya kecintaan mereka kepada negeri ini telah membuat mereka rela memberikan semua yang mereka punya, demi ibu pertiwi... Tampaknya kecintaan mereka pada tugas dan amanah yang mereka emban, membuat mereka merasa tenang... Dan semoga, amal bakti mereka adalah cerminan dari kesuksesan yang membahagiakan... kesuksesan yang sebenarnya...



0 komentar:
Post a Comment