“Ability may take you to the top,
but it takes character to stay there”.
(William Blake)
~
“Kemampuan mungkin saja membawamu ke posisi puncak, tapi dibutuhkan karakter (yang baik) untuk tetap bertahan di atas”.
Ada sebuah anekdot yang bisa dianalogikan dengan kutipan di atas. Alkisah, ada seekor kelinci yang takjub melihat burung-burung yang dapat bertengger di atas pohon yang tinggi. Kelinci itu ingin agar ia juga bisa berada di atas puncak pohon tersebut. Datanglah si Sapi Jantan (bull) yang mengetahui keinginan si Kelinci lalu memberi saran : “Hai, kelinci, kamu mau tahu cara agar bisa naik ke atas pohon itu?”, kelinci menjawab : “Iya, aku mau, mau mau”. “Kalau begitu, kamu makanlah [maaf] tahiku ini!”, kata si Sapi. Tanpa pikir panjang lagi, si Kelinci – yang sudah dibutakan oleh obsesinya untuk berada di puncak pohon – menyetujui saran tadi, lalu segera melahap tahi si Sapi.
Benar saja, setelah si Kelinci memakan tahi sapi tersebut, ia kemudian memiliki energi dan kekuatan yang membuatnya mampu memanjat pohon tersebut. Alhasil, si Kelinci ini kemudian berhasil memanjat pohon tersebut, lalu bertengger di atas pohon itu dengan rasa bangga dan senang. Si Kelinci terus berada di atas pohon itu, menari dan menyanyi dengan riang, hingga akhirnya mengusik perhatian seorang pemburu. Sang Pemburu melihat kelinci yang berada di atas pohon tadi, kemudian membidiknya, lalu menembak si Kelinci dengan senapannya. “Dorr!”, sebuah tembakan jitu telah mengenai si Kelinci dan menjatuhkannya dari atas pohon yang tinggi. Si Kelinci kemudian mati…
Apa ‘moral’ cerita di atas? Dikatakan bahwa cerita tersebut mengajarkan kepada kita bahwa : “tahi sapi (bullshit – yang juga berarti “omong kosong”/”kebohongan”) bisa saja membawamu ke atas pohon, tapi hal itu tidak akan membuatmu bertahan lama di atas sana”. Hehehe, quite funny…
Anda melihat kemiripan anekdot tadi dengan kutipan di atas? Saya ingin mengajukan suatu analogi antara anekdot dan kutipan tersebut. “Bullshit” – dengan makna gandanya ; tahi sapi dan kebohongan – bisa dipandang sebagai ‘kemampuan’ (ability), yang telah mengantarkan “si Kelinci” – ekivalen dengn “kita” – menuju posisi puncak (the top). Sedangkan apa yang bisa membuat “kita” bertahan di puncak tersebut adalah “karakter” (bisa juga berarti sifat, watak, dan peran) – yang dalam cerita di atas disimbolkan dengan “burung”.
Dari analogi di atas saya ingin menunjukkan, bahwa “posisi yang di atas” (the top) hanya patut dimiliki oleh “burung” – yang memang memiliki sifat/watak/peran sebagai yang selalu berada “di atas”. Jadi, ketika “si Kelinci” memiliki keinginan untuk berada di atas puncak, yang salah bukanlah keinginan tersebut, tetapi metode/cara yang ditempuhnya. Kalau “si Kelinci” ingin bisa berada di atas dan tetap berada di atas, maka ia harus memiliki watak/sifat seperti “burung” – bukannya dengan menelan doping yang diberikan “si Sapi” .
Kemudian, lebih dalam, kita melihat ada dua tokoh antagonis dalam cerita di atas. Pertama, adalah si Sapi Jantan, yang menyimbolkan unsur “kelemahan” – sifatnya internal. Kedua, adalah si Pemburu, yang menggambarkan faktor “ancaman” – bersifat eksternal. Jika diumpamakan bahwa mencapai puncak adalah suatu tujuan, maka tak jarang upaya kita untuk meraih tujuan tersebut mendapatkan halangan (dari “dalam”) dan tantangan (dari “luar”).
“Halangan” umumnya datang dari dalam diri kita sendiri, atau dari orang-orang di sekitar kita – yang dalam cerita di atas digambarkan dengan “Si Sapi”. Personifikasi “Sapi” juga bisa berarti sifat-sifat dan kebiasaan buruk yang kita miliki yang menjadi penghalang bagi kita untuk mencapai tujuan yang kita harapkan. Jelas, dalam cerita di atas, “si Sapi” adalah pihak yang seolah-olah memberikan pertolongan namun dengan konsep dan cara yang tidak benar. Kemudian, kita melihat “tahi sapi” tersebut berhasil memberikan “kemampuan” bagi “si Kelinci” untuk memanjat pohon dan sampai di puncak –dimana kita bisa memandang bahwa “kemampuan” yang diberikan “tahi” itu bukanlah “kemampuan” yang sebenarnya, juga bukan sumber “kemampuan” yang seharusnya dimiliki.
Adapun “tantangan” seringkali berasal dari faktor di luar kita, dan bisa dianggap sebagai konsekuensi ketika kita “menuju” sesuatu. Dalam kisah di atas, yang menjadi “tujuan” adalah “puncak”, sedangkan “tantangan” yang muncul – yakni “si Pemburu” – adalah konsekuensi yang membayangi setiap pihak yang menjadikan “puncak” sebagai “tujuan”nya. Lazimnya, “si Pemburu” senantiasa akan membidikkan senjatanya pada setiap apapun yang berada di atas puncak pohon itu – dan itulah konsekuensinya.
Dengan demikian, kesimpulan yang dapat kita tarik ialah bahwa untuk “mencapai puncak” : jangan memakan ‘tahi sapi’ (bullshit); berhati-hatilah terhadap ‘para pemburu’ yang senantiasa mengancam ; dan, jangan bermental ‘kelinci’, tapi jadilah ‘burung’ yang memang kodratnya berada “di atas” – karena hanya karena karakter/sifat/watak ‘burung’lah yang layak membawa kita “ke atas” dan tetap berada “di atas”. Percayalah pada “karakter” itu…



0 komentar:
Post a Comment