“The secret of success is consistency of purpose”.
(Benjamin Disraeli)
~
“Rahasia kesuksesan adalah konsistensi dalam (menetapkan) maksud”.
Saya teringat pada sebuah fragmen kisah saat saya mengikuti Latihan Kepemimpinan Mahasiswa – yang diadakan oleh Lembaga Kemahasiswaan ITB bersama Kodam III Siliwangi, 5-14 Juni 2006, diikuti oleh +/- 150 mahasiswa + 10 satpam ITB. Kisah tersebut telah memberikan saya pelajaran dan pemahaman sebagaimana yang disiratkan dalam kutipan di atas.
Alkisah, saat itu saya bermaksud untuk melaksanakan shalat Maghrib di sebuah daerah perkampungan terpencil yang sejuk. Kami memasuki waktu istirahat (termasuk sholat dan makan malam) di tengah-tengah pabrik tua yang tak beroperasi lagi. Sebagian peserta memutuskan untuk melaksanakan shalat di tanah lapang di sekitar pabrik itu saja, sebagiannya lagi mendirikan shalat di masjid terdekat yang jaraknya cukup jauh – sekira 300 meter – dari basepoint pabrik tersebut. Saya – yang lebih memilih untuk shalat di masjid – pun berjalan di keremangan malam seorang diri menuju masjid yang dimaksud. Saya menyusuri jalan setapak yang gelap melewati perkampungan penduduk desa tersebut – yang nampaknya tidak menjadi “jalur utama” bagi mereka yang juga bermaksud menuju ke masjid.
Setelah tiba di masjid, saya bergegas melaksanakan shalat sebagaimana yang direncanakan. Seusai melakukan ibadah tersebut, saya pun keluar masjid mempersiapkan diri memakai perlengkapan yang harus dikenakan – berpakaian a la militer. Alangkah kagetnya saya mengetahui bahwa salah satu kaos kaki saya – yang bercorak loreng khas tentara, berstatus pinjaman – ternyata tidak ada di saku celana saya. [Memang, dalam perjalanan ke masjid, saya hanya menyelipkan kaos kaki tebal tersebut di saku celana karena alasan praktis].
Saya menduga kaos kaki tersebut tercecer di jalan setapak menuju masjid yang saya lewati tadi. Namun, saya berfikir, dalam keremangan malam di tempat yang gelap itu, amatlah sukar bagi saya untuk dapat menemukan kaos kaki yang tercecer tersebut seorang diri. Saya agaknya membutuhkan bantuan orang lain.
Kebetulan, di masjid itu masih ada beberapa rekan-rekan peserta pelatihan yang juga baru saja melaksanakan shalat. Mereka telah bersiap-siap untuk kembali ke tempat seluruh peserta berkumpul di pabrik tadi. Tapi, saya menduga jalan yang akan mereka lalui untuk kembali tentu sama dengan jalan yang mereka tempuh saat menuju ke masjid itu –dan saya yakin itu tidak sama dengan jalan yang saya tempuh sebelumnya. Saya tak berputus asa. *Strategi baru dimulai…*
Saya pun bergabung membaurkan diri di antara mereka. Saya lalu mengarahkan pembicaraan tersebut dengan berupaya ‘menggiring’ mereka untuk melalui jalan yang tadi saya lewati –dan belum pernah mereka lalui. Awalnya mereka berkeinginan untuk melewati “jalan umum” saja, yang tadi mereka lalui saat menuju ke masjid. Namun, dengan mengemukakan alasan yang masuk akal – tanpa menyebutkan bahwa saya mengajak mereka melalui jalan yang saya sarankan adalah untuk membantu saya menemukan kaos kaki yang hilang itu – merekapun setuju untuk menempuh “rute baru” yang saya katakan. Kami pun bersama-sama (sekitar 5-6 orang) mulai meniti jalan yang dimaksud, dengan saya sebagai pemandunya di depan…
Setelah memasuki radius daerah di mana kemungkinan besar kaos kaki saya terjatuh, saya menginformasikan bahwa di sekitar daerah itu kaos kaki saya hilang. Saya lalu mencari-cari “barang hilang” itu dengan meraba-rabakan kaki ke tanah dan menajamkan penglihatan –yang kemudian diikuti oleh beberapa rekan di belakang saya. Setelah beberapa saat mencari sambil berjalan pulang, saya merasa bahwa kaos kaki itu benar-benar hilang. Tapi, tidak lama kemudian, seorang rekan peserta putri, berhasil menemukan kaos kaki yang dicari. Strategi saya membawa orang untuk membantu menemukan kaos kaki tersebut berhasil.
Keberhasilan tersebut tentunya terjadi karena saya mampu meyakinkan mereka untuk melakukan apa yang saya sarankan (baca: inginkan), tanpa mengabarkan ‘agenda tersembunyi’ yang saya miliki. Tapi, di tengah jalan, demi merealisasikan agenda tersebut, saya pun mensosialisasikannya, untuk memeroleh pengertian dan pertolongan yang saya maksudkan. Walhasil, saya pun berhasil menghubungkan antara konsep (tujuan, goal), sarana (metode, jalan), dengan aksi (realisasi) –hingga tujuan saya tersebut menjadi kenyataan. Tak kalah pentingnya, ketika mereka pada awalnya bermaksud menempuh jalan pulang mereka yang sama sebelumnya, saya pun tak goyah pada keinginan untuk membuat mereka mengikuti maksud saya. Inilah kunci ‘keberhasilan’ saya menemukan kaos kaki yang hilang tersebut. Keberhasilan yang berawal dari kemantapan (konsistensi) pada maksud yang ditetapkan…
Setelah semuanya berlalu, setelah kami tiba di basepoint, saya kemudian dilantik sebagai “komandan kompi” –yang mengomandoi seluruh peserta pelatihan selama kurang lebih sehari ke depan. Yang mana hal tersebut merupakan sebuah pencapaian lain dari suatu maksud yang juga [telah] saya tetapkan –tanpa harus saya ungkapkan.
***
*A “thank you” to Astrid Dita P.R (Farmasi ’05) yang sudah berjasa menemukan kaos kaki loreng pinjeman tersebut. Jangan lupa dengan saudara kembarmu.. *
*Buat LK’ers ITB Angkatan I … Mana Suara Kita? Mana Kebersamaannya? Ingat, kita punya "komitmen bersama" yang harus diagendakan…*



0 komentar:
Post a Comment