“Follow your dream as long as you live, do not lessen the time of following desire, for wasting time is an abomination of the spirit”.
(Plato)
~
“Ikuti mimpimu selama engkau masih hidup, jangan mengurangi umur dengan mengikuti hawa nafsu, membuang-buang waktu adalah hal yang sangat dibenci oleh jiwa ”.
Hidup ini sungguh penuh dengan godaan, cobaan, dan ujian (fitnah). Harta, penghidupan, pekerjaan, kedudukan, bahkan, istri (wanita) dan anak-anak yang kita miliki –termasuk keluarga– sejatinya merupakan ujian dan cobaan yang sangat berat. Disamping itu, hiruk pikuk dunia dengan segala ‘perhiasan’nya seringkali membutakan mata kita dan membuat kita terlena akan keindahannya. Sebutlah misalnya, bagaimana kita bisa lebih tahan menonton pertandingan sepakbola klub kesayangan kita 2x45 menit –daripada berlama-lama menatap Al-Kitab (Al-Qur’an) yang suci itu. Atau, bagaimana kita menghabiskan berjam-jam waktu dengan hanya duduk di depan TV, menonton film, bermain catur, gaplek dan sejenisnya –yang tak bermanfaat… Sungguh benar peringatan-Nya :
Dan tiadalah kehidupan dunia ini,
selain dari main-main dan senda gurau belaka.
[QS. Al-An’am : 32]
Akan tetapi, kita melihat begitu banyak manusia yang seolah acuh tak acuh dan tak menaruh peduli pada “ultimatum langit” tersebut. Mereka terus saja disibukkan dan dibuat terlena oleh setiap aktivitas keduniawian yang mereka geluti. Mereka sungguh tak tahu – atau tak mau ambil tahu – bahwa itu semua hanyalah ujian yang besar...
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
[QS. Ash-Shaaffaat : 106]
Alhasil, hidup mereka kering dan gersang dari nilai-nilai luhur dan muatan-muatan spiritual. Mereka terjebak dalam penjara dunia yang bagaikan sangkar emas. Mereka terlena oleh bujuk rayu syayaathiin – anak buah Iblis – yang berwujud jin dan manusia. Jiwa mereka kerdil, tak punya cita-cita tinggi dan impian luhur, bahkan tak memiliki orintasi acuan untuk menentukan mana yang benar/salah, mana yang baik/buruk. Durjana, angkara, nafsu dan nista adalah kerabat hidup mereka yang paling dekat.
Aduhai, betapa rendahnya derajat orang-orang yang demikian keadaannya. Betapa lemahnya kepribadian manusia-manusia yang terpedaya oleh kemilau dunia yang memabukkan. Sungguh, celakalah mereka yang memalingkan dirinya dari satu keabadian (di Surga) menuju keabadian yang lain (di Neraka).
Tidakkah mereka (baca: kita) tahu bahwa dunia itu hanya sementara saja – tidak kekal? Bukankah mereka melihat bahwa manusia itu lahir, tumbuh, lalu tua dan mati? Sadarkah mereka bahwa hidup (dan mati) adalah kompetisi amal perbuatan? Waspadakah mereka terhadap musuhnya yang paling besar (Iblis) – yang telah menggelincirkan bapak-ibu kita (Adam-Hawa) dari tingginya kemuliaan? Dan, percayakah mereka bahwa sesudah kematian ada kehidupan; setelah dunia (kiamat) datanglah akhirat; setiap kebaikan berbuah pahala semua kejelekan berbalas siksa; serta – setelah itu semua – hanya ada dua tempat kembali yang berlawanan – surga dan neraka – nan abadi?
Di akhir mau’izhah ini, saya hanya ingin menuturkan sebuah amtsal (permisalan) yang dikisahkan oleh ibnul Qayyim dengan begitu jelasnya…. :
Alkisah, ada seorang Raja yang menguasai kerajaan yang sangat luas dan memiliki rakyat yang sangat banyak… Suatu ketika, Raja tersebut mengumpulkan seluruh rakyatnya untuk menyampaikan sebuah pengumuman. Raja yang Agung tersebut berkata : “Wahai rakyatku, sungguh Aku telah membangun sebuah kota yang cantik indah nan megah di seberang sana.. Aku bangunkan di dalamnya istana, gedung-gedung dan rumah-rumah mewah untuk kalian tempati nantinya… Maka sekarang Aku perintahkan kepada kalian untuk bersegera berangkat menuju kota idaman itu… Jangan lupa untuk menyiapkan bekal yang cukup untuk menujunya…”.
Kemudian pergilah rakyat tersebut berduyun-duyun dalam perjalanan menuju kota indah yang dijanjikan. Di tengah perjalanan yang terik menyengat, mereka singgah pada sebuah pohon besar yang sangat rindang dan berbuah lebat. Mereka bermaksud untuk berteduh sembari beristirahat sejenak memulihkan kondisi dan mempersiapkan diri…Setelah beberapa saat, diserukanlah kepada mereka untuk kembali melanjutkan perjalanan ke kota yang diperintahkan Sang Raja… Dari situ, mulailah muncul perbedaan… Sebagian orang berkata; “tunggulah sebentar lagi, aku masih ingin beristirahat di tempat yang teduh ini…”. Ada pula yang berkata : “kalian berangkatlah duluan, nanti baru aku melanjutkan perjalanan ini menyusul kalian, aku juga masih ingin berada di pohon yang rindang ini..”. Bahkan ada juga yang berpendapat : “Ahh… rupanya tempat ini sangat indah.. biarlah aku menetap di sini saja.. toh aku sudah bisa hidup dengan tenang, senang menikmati buah-buahan yang ada di sini sepuasnya… Aku sudah tak ingin melanjutkan perjalanan lagi.. karena kita belum tahu, apa kota yang diceritakan Sang Raja benar-benar ada atau hanyalah kebohongan?”. Maka demikianlah keadaan orang-orang yang lemah semangat, rendah keinginan dan terlena oleh kenikmatan yang sesaat…
Adapun orang yang memiliki tujuan dengan pasti, semangat mereka tetap berapi-api, bahkan semakin menjadi-jadi demi mengetahui bahwa sebentar lagi mereka akan sampai di kota megah yang dijanjikan Sang Raja bagi mereka… Mereka kemudian bersiap-siap diri, lalu bergegas kembali meniti perjalanan mereka dengan bekal yang sudah disiapkan sebaik-baiknya... Perjalanan itu pun terus berlanjut, meski harus ditempuh dengan berbagai kesukaran, hambatan dan rintangan…
Hingga akhirnya, orang-orang yang mengikuti mimpinya untuk menuju kota idaman itupun berhasil menuntaskan perjalanannya, sampai pada tujuan yang diinginkannya… Lelah, letih dan lemahnya keadaan mereka sehabis menempuh perjalanan yang sangat berat, seketika menguap ketika mereka menyaksikan secara langsung kemegahan, keindahan dan kemewahan kota yang telah mereka datangi, sebagaimana yang telah diinformasikan oleh Sang Raja… Sang Raja pun ternyata sudah berada di kota itu, untuk menyambut mereka dan memberikan penghargaan dan balasan atas ketaatan mereka dalam mengikuti titah Sang Raja… Mereka pun kemudian bersuka cita, dipenuhi dengan keriangan, kegembiraan dan beragam kenikmatan yang tiada terkira… Sungguh benar janji Sang Raja, dan sungguh bahagia mereka yang berhasil tiba di kota yang berharga tersebut…
Adapun orang-orang yang lamban, yang masih tertinggal di belakang, yang masih berdiam di bawah rindangnya pohon besar itu... Maka Sang Raja memerintahkan bala tentaraNya untuk segera menghancurkan pohon besar tersebut... Maka pohon tersebut pun kemudian musnah akibat titah Sang Raja.. Tinggallah orang-orang yang tadi suka menunda-nunda, malas dan penuh keragu-raguan, berada dalam ketakutan yang mencekam… Mereka baru tersadar, bahwa sungguh Sang Raja tidak bermain-main dengan perintahNya, dan kini mereka baru mengetahui bahwa Sang Raja amat marah dengan keteledoran dan kelalaian yang mereka lakukan… Mereka lalu berniat untuk melanjutkan perjalanannya kembali, tapi apa daya, mereka tak lagi siap, juga tak memiliki perbekalan yang cukup untuk menuju kota idaman yang telah menjadi milik orang-orang yang sungguh-sungguh percaya…
Mereka pun menyesal sejadi-jadinya… menangis dan meratapi nasibnya yang sengsara… Mereka tahu bahwa mereka telah membangkang dari titah Sang Raja, dan mengkhianati amanah yang telah diberikan kepada mereka sendiri.. Mereka kini tahu, semuanya sudah terlambat… tak ada lagi kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang mereka lakukan… dan, tak ada lagi yang tersisa bagi mereka, selain murka Sang Raja yang akan membuat mereka merasakan kerasnya hukuman dan siksaanNya…
Merekalah orang yang menjadi merugi, celaka, dan durhaka akibat perbuatan dan keyakinan mereka yang salah.. Merekalah orang-orang yang terlena oleh buaian kenikmatan yang sesaat, lalu menjadi buta dan tak lagi melihat keindahan-kenikmatan yang menunggu mereka di ujung perjalanannya... Merekalah orang-orang yang menghabiskan umurnya, membuang-buang waktunya hanya demi merasakan kenikmatan yang semu, kesenangan yang menipu, dan ketenangan yang palsu... Merekalah, orang-orang yang kalah dalam perlombaan, gugur dalam persaingan, gagal dalam perjuangan, dan sesat dalam perjalanan... Sungguh, mereka adalah orang-orang yang menyia-nyiakan umurnya, membuang-buang waktunya, dan melepaskan kesempatan emasnya hingga menjadi orang yang hina, rendah, dan binasa..
Mereka hanyalah pecundang, yang gagal melewati ujian kehidupan!
Na’udzubillahi min dzaalik...
Sebenarnya itu adalah ujian,
tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.
[QS. Az-Zumar : 49]
~ Wallahu a’lam... ~



0 komentar:
Post a Comment