“The future belongs to those who believe in the beauty of their dreams”.
(Eleanor Roosevelt)
~
“Masa depan adalah milik orang-orang yang percaya pada keindahan mimpi-mimpi yang mereka miliki”.
Masa depan adalah apa yang terjadi pada hari esok. Masa depan memang belum terjadi, karena ia baru datang setelah hari ini berlalu… Tapi, bagaimana kita melalui hari ini, maka kondisi hari esoknya tak akan jauh berbeda. Mimpi, adalah apa yang kita harapkan dapat terjadi pada masa yang akan datang. Mimpi-mimpi kita ‘lahir’ hari ini, kemudian jika kita ‘menjaganya’ agar tetap “hidup”, niscaya kita akan mendapati mimpi-mimpi tersebut di hari-hari mendatang (masa depan), [mudah-mudahan] dalam wujud yang berbeda; mimpi yang menjadi kenyataan.
Mimpi yang berharga adalah mimpi yang bertahan lama, tidak berubah oleh bergesernya waktu, tidak melenceng oleh derasnya tantangan. Mimpi yang demikian adalah mimpi yang bernilai tinggi, karena secara intrinsik mengandung cita-cita luhur, mengikuti nilai kebenaran dan keadilan, serta memiliki pengaruh yang signifikan dalam kehidupan. Mimpi tersebut tetap akan eksis, bukan karena banyaknya orang yang mau memiliki (dan mewujudkan) mimpi itu, tetapi karena tingginya derajat yang dikandungnya, serta indahnya konsekuensi yang bisa ditimbulkannya.
Orang-orang yang mulia adalah mereka yang mempunyai keinginan kuat untuk mengambil, mengikuti dan mewujudkan mimpi berharga tersebut di atas. Mereka tidak dipilih oleh mimpi tersebut, merekalah yang (secara sadar) memilih mimpi itu, karena telah jatuh hati pada keindahannya. Perasaan jatuh hati terhadap mimpi yang demikian bernilainya akan membuat mereka mau melakukan apa saja, bahkan berkorban memberikan semua yang mereka punya, hanya agar mereka mampu menyaksikan mimpi tersebut terwujud dalam kehidupan. Kerasnya cobaan, hebatnya tantangan, dahsyatnya perlawanan dan seburuk apapun keadaan yang mungkin menimpa mereka – yang memiliki impian-impian indah tersebut – tidak menggoyahkan prinsip dan keteguhan hati mereka dalam berjuang.
Alhasil, sang waktupun memberikan dukungannya kepada mereka. Hingga akhirnya sang waktu pula yang menjadi hakim untuk memberi keputusan dan jawaban terhadap mimpi yang mereka perjuangkan. Kita melihat sang waktu – yang telah menjadi saksi kesungguhan perjuangan mereka – akan berpihak di sisi mereka; meskipun itu baru akan terjadi di masa yang akan datang, bukan sekarang. Akan tetapi, sang waktu tak pernah melepaskan janjinya untuk bersama mereka menyaksikan ‘kelahiran kembali’ mimpi-mimpi tersebut – mimpi-mimpi yang menjadi kenyataan.
Lihatlah bagaimana keyakinan, perjuangan dan dedikasi Nelson Mandela membuahkan hasil yang manis – setelah penderitaan dan penindasan yang lama menimpa dirinya dan rakyatnya. Lihat pula bagaimana jerih payah, usaha dan percobaan Leonardo da Vinci, Otto Lilienthal, dan Wright bersaudara telah berhasil mewujudkan impian manusia untuk menaklukkan udara. Dan, renungkanlah bagaimana keikhlasan, kesungguhan, pengorbanan dan keteladanan Nabi Muhammad – dalam menyerukan risalah kebenaran – telah mengubah wajah dunia, memengaruhi sejarah peradaban, dan membuat jutaan umat manusia memiliki pandangan hidup yang “selamat dan menyelamatkan”.
Demikianlah, semua keagungan yang dimiliki oleh setiap manusia-manusia besar hanya berawal dari keinginan (mimpi) luhur yang mereka miliki. Mereka kemudian berjuang tak kenal lelah, tak berharap pamrih, demi menyadari hakikat keluhuran, urgensi dan peranan dari misi yang mereka emban. Keadaan mereka terus seperti itu, dan mereka tak banyak mengeluh. Mereka tetap pantang mundur, tak mau menyerah dan tak berputus asa dalam usaha membuat mimpinya menjadi kenyataan.
Dan sejarah selalu mencatat, betapa perjuangan mereka kemudian menuai hasil yang membanggakan. Semuanya karena mereka tahu, percaya dan yakin pada keagungan dan keindahan “mimpi-mimpi” yang mereka ikuti, yang mereka perjuangkan. Dan setelah itu, sang waktu hanya terus berpihak kepada mereka. Karena masa depan, sungguh hanya ada di tangan para pemimpi agung...



0 komentar:
Post a Comment