e
(antara Harapan, Angan-Angan, dan Kesempatan)
Arrgghhhh……
Tak kuasa aku membendung rasa kesal, kecewa, sedih dan nestapa atas satu perkara: “Aku tak jadi lulus Maret ini…!!!”.
Perjuangan dan –katakanlah– pengorbananku selama dua bulan terakhir ini seolah-olah tiada artinya. Kerja keras dan –anggaplah– kesungguhan yang kuberikan selama ini tidak beroleh hasil yang diharapkan: sebuah kelulusan….
Huuuuh… Huffhh….
Huehueeee……
Inginnya aku menangis, mencucurkan airmata, dan meratapi semua kegagalan yang terjadi. Tapi tidak bisa! Entah kenapa, entah bagaimana. Mungkin aku terlalu angkuh untuk mengakui kekalahan. Mungkin aku terlalu sombong untuk menerima kegagalan. Mungkin juga –semoga tidak– aku telah kehilangan kepekaan untuk membedakan antara “kenyataan dan realita”. Inginnya aku menghempaskan badanku ke laut lepas, menegakkan tubuhku di atas puncak gunung, atau –kalau saja aku bisa– terbang melayang ke atas angkasa raya menantang sang surya!
Pupus sudah harapanku untuk menyandang gelar sarjana setelah kurang-lebih lima tahun menempuh kuliah. Habis sudah asaku untuk mewujudkan ‘keajaiban’ yang dulu begitu kupegang teguh. Dan, yang paling menyedihkan, aku telah gagal memenuhi janjiku, janji yang kuberikan kepada ibundaku tercinta: bahwa aku akan lulus Maret nanti (ini, -ed.). Aduhai… betapa malangnya…. Betapa bodohnya diriku ini… Betapa lalainya aku…. !!!
Beuh...
Bukannya aku ingin menyalahkan diriku atas musibah yang menimpa ini... Tapi yang jelas, yang salah adalah diriku sendiri yang membiarkan ini terjadi... Terlalu lama aku bermain-main dan menjauh dari tanggung jawab yang seharusnya aku tunaikan.. Terlalu sering aku menunda-nunda pekerjaan yang sifatnya urgent.
“Sampai kapan engkau akan terus begini ? Kapan engkau akan berhenti menyepelekan permasalahan yang penting ? Bilakah engkau berhenti hanya berangan-angan tanpa mau sungguh-sungguh berjuang ?“, batinku ikut mengadiliku.
Yaa Allah… Mengapa? Bagaimana?
Kutahu, musibah yang melanda adalah buah dari kesalahan (dosa) yang telah kuperbuat sendiri dengan kedua tanganku, kedua mataku, dan kedua kakiku. Kutahu, sebuah kegagalan yang menimpa merupakan buah dari lemahnya keinginan, niat dan cita-cita yang ada di dalam dada. Dan, kusadari, buruknya keadaan yang terjadi merupakan indikasi pasti akan kusutnya, sakitnya, bahkan – a’udzubillah – rusaknya sang-hati.
Ada juga yang berkata bahwa dibalik semua musibah tersebut ada hikmahNya yang harus kita terima. Oke, mungkin itu benar. Namun, bagiku, satu-satunya hikmah yang paling utama yang harus aku ambil adalah: “menyadari sepenuh hati, bahwa kesuksesan/keberhasilan kita sepenuhnya bergantung pada niat (baca: kesungguhan) yang kita miliki. Tidak ada kegagalan yang terjadi, melainkan itu menunjukkan lemahnya dan kurangnya keinginan/kesungguhan hati kita untuk mewujudkan hal yang sebaliknya”.
Duh, Gusti… berikan aku kekuatan untuk BERUBAH! Berikan aku kesungguhan untuk menjadi KUAT! Berikan aku kesadaran… Aku tak mau menjadi seperti keledai yang jatuh 2,3,4 atau entah sekian kali pada suatu lobang (sama ataupun tak sama, tetap saja yang namanya “lobang” itu “menjerumuskan”).
Hummhh…
Kutuliskan kisahku ini sekadar untuk menjadi “penyaluran” atas ekspresi kekecewaan yang membuat gundah-gulana sang jiwa. Dan, di samping itu, sebagai rekaman sejarah berharga, agar perihal yang serupa tak lagi menimpa di depan masa. Karena, seperti orang bijak berwasiat : “kegagalan adalah pintu menuju kesuksesan”! “Kesuksesan adalah seberapa tinggi engkau melesat, setelah terjatuh ke bawah”, dan, “[akan halnya] kesuksesan itu tiada berakhir, kegagalan bukanlah sebuah akhir”….
Perjalanan panjang menuju sebuah “finish”
Setelah tertatih-tatih (ya, saya menggunakan istilah “tertatih-tatih” disini kiranya tidak berlebihan mengingat beberapa kali saya harus mengulang beberapa mata kuliah yang nilainya jelek – bahkan ada juga yang tidak lulus) menyelesaikan semua mata kuliah tingkat sarjana (S1) pada program studi Teknik Penerbangan – Fakultas Teknologi Industri – Institut Teknologi Bandung, akhirnya akupun hanya dihadapkan pada satu lagi kewajiban-akademis sebelum meraih gelar ST (insinyur, atau, saya lebih suka menyebutnya: “enjiniir”). Satu kewajiban tersisa itu adalah mengerjakan dan menyelesaikan “Tugas Akhir”/TA (setara dengan “Skripsi” pada disiplin ilmu sosial) yang berbobot lima SKS. Awalnya, aku mengambil SKS TA tersebut di semester 10-ku, namun karena suatu hal, aku terpaksa melepasnya (melalui PRS-Perubahan Rencana Studi) dan baru mengambil SKS TA itu pada Semester Pendek, di akhir semester genap yang tengah berjalan.
Waktu itu keputusanku mengambil SKS TA di semester pendek adalah agar aku bisa selesai secepatnya; ya, “selesai secepatnya” – sebuah harapan yang menggiurkan. Di kemudian hari, barulah kusadari, keputusanku waktu itu ternyata keliru. Harapan-indahku itu didasarkan pada asumsi-asumsi yang semu dan tendensi yang terlalu terburu-buru.
Mulailah aku berburu dosen pembimbing, siapa kira-kira yang cocok untuk membimbingku mengerjakan Tugas Akhirku itu. Sebelumnya, aku lebih dulu harus menentukan spesialisasi, sub-program studi, Kelompok Bidang Keahlian (KBK) atau apalah namanya yang mengidentifikasikan “grup”ku ke dalam konteks ilmu penerbangan (aeronautics and astronautics) yang menjadi ranah program studiku. Di prodi Teknik Penerbangan, ada beberapa KBK yang mengkaji dan mempelajari aspek-aspek tertentu dari ilmu penerbangan (nampaknya lebih tepat disebut sebagai “ilmu dirgantara”) yang cakupannya memang terhitung luas dan dalam. KBK itu adalah: (1) Aerodinamika; grup ini mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan “udara” dan berbagai atributnya. Bagaimana membuat sayap(-pesawat) yang efisien secara aerodinamis, bagaimana menghitung gaya angkat (lift) dan gaya hambat (drag) pada suatu pesawat-udara, hingga termasuk analisis sistem propulsi juga dibahas di KBK ini. Bagiku, KBK ini jelas-jelas terlalu njlimet dan sukar kukuasai (kumengerti). Namun, lucunya, bisa juga aku meraih nilai “A” pada sebuah mata kuliah cabang KBK ini, yaitu “Aerodinamika III” (weleh-weleh, kuliah Aerodinamika sampe ada tiga level tuh, gimana gak puyeng?) – sementara nilai mata kuliah Aerodinamika I dan II-ku berturut-turut adalah B dan C. Nilai Propulsi-ku juga dapet “B”, namun itu setelah ngulang sekali karena dapat E, hehehe (masih untung ngulang sekali, FYI, kuliah Aero II-ku tuh ngulang ampe 2x! Dan hanya bisa dapet nilai C! Huaahh, susah bin berat bener kuliah yang satu itu….O..seraaam). Wah, cukup dulu cerita tentang aerodinamikanya – ilmu yang menarik dan inti dari ilmu-penerbangan, meski susahnya minta ampyuuun…
KBK yang ke-(2) [adalah] Struktur. Grup ini lebih memfokuskan pada analisis struktur pesawat terbang. Struktur pesawat terbang umumnya menggunakan struktur semi-monocoque, yang berarti bahwa beban-beban (load and force) yang bekerja pada sebuah pesawat udara hanya ditahan oleh skin dan sebagiannya oleh rangka/tulang pesawat. Oleh karena itu, KBK ini umumnya mempelajari bagaimana menghitung tegangan (stress) yang terjadi/bekerja pada struktur pesawat terbang, apakah tegangan itu masih bisa diterima oleh struktur tersebut? Dan, kapankah struktur tersebut mengalami kegagalan (fracture)? Konsep-konsep utama yang dipakai di KBK ini berasal dari mata kuliah: Statika, Kinematika dan Dinamika, lalu berlanjut ke Mekanika Teknik, hingga ke Analisis Struktur Ringan, juga beberapa mata kuliah pilihan (Cacat, Komposit, damage tolerance, FEM-Finite Element Method dan lain sejenisnya). Bagiku, KBK ini juga masih terbilang berat, mengingat sebagian besar nilaiku pada mata-kuliah berbau Struktur tidak bagus-bagus amat. Padahal, konon kabarnya, KBK inilah yang paling banyak diminati oleh mahasiswa Penerbangan karena umumnya dianggap lebih ‘mudah’ sehingga mereka bisa lebih cepat lulus. Lagipula, ilmu-ilmu di KBK ini relatif lebih “umum”, sehingga bisa diterapkan di bidang lain – di luar bidang ke-penerbangan-an. Namun, menurutku, aku tidak cocok di Struktur.
KBK yang ke-(3) Fisika Terbang. Tak ingin berpanjang lebar, pokoknya di KBK ini mempelajari hal-hal seputar mekanika terbang (Dinamika Terbang dan Kendali Terbang) dan ilmu lainnya (Astrodinamika, Navigasi dan Panduan Terbang, dan lain sebagainya). Aku juga terang tak berselera dengan yang satu ini.
Nah, ini dia KBK yang menjadi pilihanku. KBK (4) Desain dan Operasi Penerbangan. Dulunya KBK ini terdiri atas dua KBK: KBK Desain/Perancangan Pesawat Terbang, dan KBK Sistrans (Sistem Transportasi). Kedua KBK tersebut lalu dilebur menjadi satu KBK saja, yang meliputi aspek-aspek: Perancangan Pesawat Terbang (nih kuliah juga bikin setengah-mati dan pusing 14 keliling! Huhuhu), Sistem Transportasi (mencakup Kelaikan Udara, Sistran, dan Manajemen Industri Dirgantara), juga seputar ilmu-ilmu perawatan pesawat terbang (Sistem-sistem Pesawat Udara, Perawatan Pesawat, dan lain-lain). Secara general, nilai akademisku di mata-kuliah KBK ini relatif ‘aman’: kalo gak bagus-bagus amat, yah, minimal standarlah..hehe. Inilah yang mendasariku untuk memilih KBK ini sebagai domain TA-ku, disamping pandanganku bahwa KBK ini tidak terlalu berat ataupun njlimet seperti yang lainnya.
Well, setelah menentukan grup KBK pilihanku, tinggal mencari dosen pembimbing dan meminta topik TA. Pilihanku pun jatuh kepada seorang dosen ber-madzhab Sistran yang rupanya spesialis bidang Keselamatan dan Keandalan Penerbangan. Setelah beberapa kali mengajukan “lamaran”, akhirnya akupun mendapatkan topik Tugas Akhir yang akan kukerjakan: yakni seputar masalah analisis pasar untuk mengembangkan operasi kargo udara (baru) secara spesifik.
Mulailah aku mengerjakan TA-ku itu. Sedianya objek pengambilan datanya hanya di sekitar Bandung saja, namun, demi memenuhi permintaan orang tua yang mengharapkan anak-sulungnya mau kembali sejenak ke (kampung halaman) Makassar, akhirnya penelitian dan pengumpulan data pun dialihkan ke kota yang panas itu. Bertepatan dengan liburan semester genap, meski jadwalnya molor kurang lebih dua minggu, menjelang akhir Juni 2007, aku pun berangkat menuju Makassar : demi penelitian, sekalian liburan dan bertemu keluarga yang dirindukan.
Proses panjang pun dimulai, dalam rangka mengumpulkan satu demi satu bahan-bahan, data-data ataupun informasi yang berarti. Tak lupa, sebelum itu semua, ngurus-ngurus masalah perizinan dulu... ahh, birokrasi lagi... Meskipun terhitung lancar, pengurusan masalah birokrasi ini juga memakan waktu yang melebihi perkiraanku.
Penelitian ataupun pengambilan data di lapangan pun lebih ‘kocak’ lagi. Meski di kampung sendiri, tapi mentang-mentang bawa nama Perguruan Tinggi di tanah Jawa (tepatnya, tanah Sunda) ada juga hambatan-hambatan yang kutemui. Mulai dari prosedur yang ribet, mekanisme perolehan data yang lelet, dicuekin, sampai ‘pemerasan-halus’ sebagai imbal-jasa pemberi data. Wah, cemmana pulak niy... Akhirnya, kemoloran itupun berlipat-masa... Jadwal penelitian di Makassar yang direncanakan tidak lebih dari sebulan malah menjadi dua bulan!
Akupun kembali ke Bandung, dengan niat mengerjakan analisis data dan penulisan laporannya disana saja, agar lebih fokus dan rencanaku berjalan mulus. Tapi, itu hanya diangan-angan saja…
Mendadak, aku memiliki kesibukan baru yang cukup menyita waktuku: menjadi asisten dosen pembimbingku, membantunya dalam beberapa proyek yang dikerjakannya. Dari dulu juga aku tak ada rencana untuk terlibat dalam yang namanya proyek-proyekan. Tapi, setelah diajak oleh senior yang juga membantu dosen pembimbingku itu, dan selain melihat posisi dosen itu sebagai “pembimbing” TA-ku, akupun setuju untuk ikut membantu….
Begitulah, alokasi waktuku terpecah… Sayangnya, aku bukanlah orang yang pandai membagi dan mengatur waktu. Jadilah, aku lebih banyak menghabiskan waktu mengerjakan proyek dosen, daripada mengerjakan “proyek”ku sendiri. Iming-iming insentif/honor menjadi daya tarik tersendiri yang sukar kupungkiri. Mencari pengalaman (bekerja), menambah koneksi/relasi, serta membayar ‘mahar’ kompensasi juga menjadi justifikasi yang kuamini sendiri…
Kurang lebih tiga bulan aku bergulat dengan rutinitas sebagai pekerja proyekan (yang mana umumnya tugasku hanya menyiapkan laporan, atau jika diminta, mencari data). Selama itu pula aku mengabaikan dan –seolah-olah– melupakan tugasku yang lebih utama : TA.
Kesadaranku pun mencuat kembali pada akhir-akhir bulan November, hingga menjelang Desember 2007. Kuputuskan untuk mengurangi porsi keterlibatanku dalam proyek, agar bisa memfokuskan diri untuk menyelesaikan TA itu dalam sisa waktu yang ada. Nahas ! Tiba-tiba posisiku menjadi kian signifikan dalam pekerjaan proyekan. Hal ini terjadi karena seniorku – yang mengajakku ikut proyek tersebut – mendapatkan beasiswa S2 ke Malaysia. Mau tidak mau, aku lah yang harus menggantikan posisinya sebagai asisten pertama yang membantu setiap proyek yang ada. Di satu sisi ada kebanggaan dan merasa ini peluang berharga bagiku, di sisi lain ada perasaan « terjebak » dalam situasi yang berkembang begitu cepat. Dan aku tak bisa menolak ! Aku bukanlah seorang yang mudah berkata « tidak ». Maka, waktupun kian berlalu... sementara tugas utamaku (TA) menjadi kian tak tentu....
Sebuah “quick-start” perjalanan baru
Dalam masa yang kian singkat terasa itu, akupun mencoba berpacu dengan waktu. Aku mengejar dua hal (proyek dan TA) yang harusnya lebih kuutamakan salah satunya (TA saja). Hari-hari pun berjalan cepat, dengan tuntutan yang semakin berat. Rutinitas itupun semakin berlipat : siang hari mengerjakan proyek, malam hari (asal) mengerjakan TA – keduanya berlangsung di tempat yang sama ; ruang laboratorium pak dosen. Tak lama bagiku untuk menjadi « makhluk-malam » yang berkeliaran hampir setiap hari di sekitar kampus....
Hingga pada suatu malam, ketika aku sedang asyiknya mengerjakan TA-ku, si Ruli – teman karibku – memberitahukan sebuah info. Isinya adalah terbukanya lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan (maskapai) penerbangan nasional. Ia – yang baru saja menjadi fresh-graduate – tertarik untuk mencoba melamar di perusahaan yang berkembang pesat itu, dan ia pun mengajakku kalau aku mau. Sejenak aku berfikir, menimbang-nimbang, apakah peluang itu pantas untukku ? ‘’Aku ‘kan belum lulus ‘’, ucap batinku. Tapi akalku membantah. ‘’Ini adalah kesempatan, yang harusnya tidak dilewatkan begitu saja. Minimal, aku bisa menyiapkan diri menghadapi serangkaian tes ataupun wawancara dalam rangkaian lamaran kerja nantinya’’. Akupun setuju.... « Toh, hanya coba-coba saja »....
Awal langkah itu adalah minggu ketiga di bulan Desember. Aku dan beberapa teman-temanku (semuanya fresh-graduates kecuali aku yang masih belum lulus) lalu mengadu nasib ke Jakarta.
Semuanya terjadi begitu cepat, dan terkesan begitu terburu-buru. Tes pertama (Psikotest) dilalui, tes kedua (Wawancara) dilewati, tes ketiga – terakhir – (medical check) pun telah dijalani. Dan, akhirnya, siapa kira, aku termasuk yang beruntung diterima di perusahaan bersimbol Singa itu (sesuai dengan simbol bulan kelahiranku, hee...). Dari kami berenam – semuanya sama-sama dari Penerbangan ITB – empat diantaranya (termasuk aku) diterima sebagai tenaga baru pada bagian Engineering–Technical Service.
Lucu. Mengingat dua temanku yang belum keterima itu sudah menyandang gelar ST, sementara aku yang notabene masih menyandang ‘gelar’ Mahasiswa (hampir-abadi) yang justru diterima bersama ketiga teman lainnya. Lucunya lagi, prosesi dan timing perekrutan itu terjadi begitu cepat; kurang dari dua minggu – dari awal kami tes sampai pengumuman diterima. Dan, yang tak kalah lucunya juga, tes-tes itu aku jalani tanpa persiapan yang berarti. Psikotesnya terkesan asal-asalan (dari penyelenggaranya terlihat kurang serius, dan akupun kurang siap). Wawancaranya tiga tahap (pertama, dengan senior engineer – nanya-nanya aspek teori/akademis; kedua, dengan konsultan – nanya-nanya basic knowledge & engineering, but in english bo’, secara doi orang Philipina; dan ketiga, dengan manajer tekniknya, yang kelak menjadi boss-ku) kujalani dengan tegang. Dan, akhirnya, medical test, hanya kulalui dengan pasrah…
Aku keterima euy! Di sebuah perusahaan general aviation yang –menurutku– berkembang pesat. Bersyukur, karena aku sudah diterima bekerja sebelum aku lulus kuliah. Dan, bersyukur lagi, karena aku bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan latar belakang akademisku – padahal sebelumnya aku mengira orang dengan kemampuan dan ilmu pas-pasan sepertiku ini tak akan bisa diserap di industri dirgantara. Dan, bersyukur lagi, karena posisi dan statusku di perusahaan itu dianggap sama seperti karyawan/tenaga baru lainnya yang berkualifikasi S1 – dan tentunya gajinya pun sama, heehee..
Euphoria ini tidak begitu lama bertahan, sebab akupun dihadapkan pada masalah dan tantangan baru yang menghadang. Pertama, aku harus segera menyelesaikan TA-ku – agar bisa lulus Maret ini. Kedua, aku harus berbicara kepada dosenku perihal keterlibatanku di proyeknya. Dan ketiga, akupun harus segera menyiapkan dan menyesuaikan diriku untuk bekerja dengan baik di perusahaan yang telah menerimaku tersebut.
Apesnya, mereka (pihak perusahaan) menginginkan (membutuhkan) aku bisa bekerja per Januari 2008 ini. Kucoba mengajukan permohonan dispensasi, mengingat TA-ku belum selesai. Namun, mereka menolak. My boss just give me some dispensation by letting me go to Bandung for consultation with my counselor, and it only allowed by the weekend time. Mengingat akhir minggu bukanlah waktu yang tepat untuk bimbingan, akupun mengajukan usul agar waktunya digeser hari Senin dan Selasa, jadi Senin Selasa aku di Bandung, Rabu sampai Minggu aku masuk kerja. Deal. Bosku setuju.
Mulailah aku menapaki jenjang baru sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. Akupun ikut larut dan tenggelam dalam rutinitas serta pola kerja di perusahaan tersebut. Pada masa-masa awal itu, yang seharusnya merupakan masa beradaptasi dan perkenalan lingkungan-kerja, kami sudah dituntut untuk bisa langsung meng-handle pekerjaan/tugas yang dibutuhkan.
Sial. Aku lalu berbuat sebuah kesalahan kecil. Kesalahan – yang meskipun kecil dan sepele – namun nyatanya membawa dampak yang begitu besar. Aku melewatkan proses pendaftaran semester baru (semester ganjil)!
Entah mengapa aku bisa begitu lupa dan lalainya akan masa pendaftaran itu. Yang jelas, aku tidak mendaftar untuk semester berikutnya. Dan hal ini, membuat status kemahasiswaanku di rektorat tidak jelas. Aku baru mengetahui ihwal pendaftaran tersebut setelah beberapa waktu dimana masa pendaftaran ulang tersebut telah usai. Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar bahwa Kepala Prodi mencariku, sehubungan dengan kasusku ini.
Akupun mencoba bergerak cepat, mencoba menyelesaikan semuanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sekarang aku punya dua beban yang keduanya tak dapat kuabaikan: sebagai mahasiswa tingkat akhir yang belum menyelesaikan TA-nya plus masalah administratif tadi – dan sebagai karyawan baru yang harus segera beradaptasi, bekerja dengan baik, dan melaksanakan tugas dengan profesional.
Namun, seperti kata pepatah: “malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih”. Setelah bolak-balik Bandung-Jakarta untuk urusan studi dan kerja, lalu bersusah-payah berkejaran dengan deadline seminar/sidang TA, yang juga terhalang oleh masalah administrasi di rektorat, usahaku pun menemui kegagalan. Meski aku berhasil membujuk dosen pembimbingku untuk diberi kesempatan bisa seminar, namun seminar itu urung dilaksanakan. Penyebabnya adalah beliau mengatakan analisisku masih kurang satu bagian lagi, sehingga aku perlu mengerjakan analisis tersebut. Ia menginginkan esoknya analisis tersebut sudah selesai – dengan benar – dan format laporannya sudah selesai semua, agar bisa diseminarkan. Tapi, sayangnya, demi mengejar pesanan sang pembimbing, laporan dimaksud baru selesai pada sore harinya – ketika sang pembimbing sudah pulang ke rumahnya.
Tak lupa akupun berdiskusi dan curhat kepada Pak (Doktor) Taufiq Mulyanto, dosenku yang juga menjabat sebagai Sekertaris Prodi, lalu aku menghadap kepada Pak (Doktor) Leonardo Gunawan – Kepala Prodiku – untuk meminta solusi atas masalahku, namun hasilnya nihil. There’s no way to make a shortcut. Aku harus menunggu semester berikutnya, katanya….
Yaaah, begitulah kisah perjalanan panjang dan lika-liku pengembaraanku dalam babak kehidupan yang baru.
Setelah tahu tak ada lagi yang bisa kuperbuat – dalam urusan studiku – selain menunggu kloter berikutnya, aku hanya bisa pasrah dan menerima situasi ini; situasi yang sejatinya terlahir dari ulahku sendiri. Beruntung, Tugas Akhir yang telah sekian lama kuterlantarkan kini telah rampung kukerjakan. Hanya Seminar dan Sidanglah yang akan menjadi tahapan terakhir sebelum aku bisa menyempurnakan tingkatan studiku di Kampus Cap Gadjah Doedoek itu…
Kini, aku tak mau berlarut-larut dalam suasana kalut….
Beruntung, aku punya kesibukan lain, ada tanggungjawab baru yang menunggu. Aku telah diterima bekerja, dan aku harus membayar kepercayaan yang diberikan kepadaku dengan sebaik-baiknya. Minimal menunjukkan bahwa aku memang memiliki kemampuan (kapabilitas dan kapasitas) untuk menunaikan tugas yang diemban. Dan, dengan begitu, setidaknya, aku telah memberi kontribusi kecil untuk memutihkan nama almamaterku yang – konon – kian merosot.
Segala Puji Bagi Allah dalam setiap keadaan…
Segala puji bagi-Nya yang menetapkan seluruh perkara berdasarkan qadar (ukuran)...
Tak kuasa aku membendung rasa kesal, kecewa, sedih dan nestapa atas satu perkara: “Aku tak jadi lulus Maret ini…!!!”.
Perjuangan dan –katakanlah– pengorbananku selama dua bulan terakhir ini seolah-olah tiada artinya. Kerja keras dan –anggaplah– kesungguhan yang kuberikan selama ini tidak beroleh hasil yang diharapkan: sebuah kelulusan….
Huuuuh… Huffhh….
Huehueeee……
Inginnya aku menangis, mencucurkan airmata, dan meratapi semua kegagalan yang terjadi. Tapi tidak bisa! Entah kenapa, entah bagaimana. Mungkin aku terlalu angkuh untuk mengakui kekalahan. Mungkin aku terlalu sombong untuk menerima kegagalan. Mungkin juga –semoga tidak– aku telah kehilangan kepekaan untuk membedakan antara “kenyataan dan realita”. Inginnya aku menghempaskan badanku ke laut lepas, menegakkan tubuhku di atas puncak gunung, atau –kalau saja aku bisa– terbang melayang ke atas angkasa raya menantang sang surya!
Pupus sudah harapanku untuk menyandang gelar sarjana setelah kurang-lebih lima tahun menempuh kuliah. Habis sudah asaku untuk mewujudkan ‘keajaiban’ yang dulu begitu kupegang teguh. Dan, yang paling menyedihkan, aku telah gagal memenuhi janjiku, janji yang kuberikan kepada ibundaku tercinta: bahwa aku akan lulus Maret nanti (ini, -ed.). Aduhai… betapa malangnya…. Betapa bodohnya diriku ini… Betapa lalainya aku…. !!!
Beuh...
Bukannya aku ingin menyalahkan diriku atas musibah yang menimpa ini... Tapi yang jelas, yang salah adalah diriku sendiri yang membiarkan ini terjadi... Terlalu lama aku bermain-main dan menjauh dari tanggung jawab yang seharusnya aku tunaikan.. Terlalu sering aku menunda-nunda pekerjaan yang sifatnya urgent.
“Sampai kapan engkau akan terus begini ? Kapan engkau akan berhenti menyepelekan permasalahan yang penting ? Bilakah engkau berhenti hanya berangan-angan tanpa mau sungguh-sungguh berjuang ?“, batinku ikut mengadiliku.
Yaa Allah… Mengapa? Bagaimana?
Kutahu, musibah yang melanda adalah buah dari kesalahan (dosa) yang telah kuperbuat sendiri dengan kedua tanganku, kedua mataku, dan kedua kakiku. Kutahu, sebuah kegagalan yang menimpa merupakan buah dari lemahnya keinginan, niat dan cita-cita yang ada di dalam dada. Dan, kusadari, buruknya keadaan yang terjadi merupakan indikasi pasti akan kusutnya, sakitnya, bahkan – a’udzubillah – rusaknya sang-hati.
Ada juga yang berkata bahwa dibalik semua musibah tersebut ada hikmahNya yang harus kita terima. Oke, mungkin itu benar. Namun, bagiku, satu-satunya hikmah yang paling utama yang harus aku ambil adalah: “menyadari sepenuh hati, bahwa kesuksesan/keberhasilan kita sepenuhnya bergantung pada niat (baca: kesungguhan) yang kita miliki. Tidak ada kegagalan yang terjadi, melainkan itu menunjukkan lemahnya dan kurangnya keinginan/kesungguhan hati kita untuk mewujudkan hal yang sebaliknya”.
Duh, Gusti… berikan aku kekuatan untuk BERUBAH! Berikan aku kesungguhan untuk menjadi KUAT! Berikan aku kesadaran… Aku tak mau menjadi seperti keledai yang jatuh 2,3,4 atau entah sekian kali pada suatu lobang (sama ataupun tak sama, tetap saja yang namanya “lobang” itu “menjerumuskan”).
Hummhh…
Kutuliskan kisahku ini sekadar untuk menjadi “penyaluran” atas ekspresi kekecewaan yang membuat gundah-gulana sang jiwa. Dan, di samping itu, sebagai rekaman sejarah berharga, agar perihal yang serupa tak lagi menimpa di depan masa. Karena, seperti orang bijak berwasiat : “kegagalan adalah pintu menuju kesuksesan”! “Kesuksesan adalah seberapa tinggi engkau melesat, setelah terjatuh ke bawah”, dan, “[akan halnya] kesuksesan itu tiada berakhir, kegagalan bukanlah sebuah akhir”….
Perjalanan panjang menuju sebuah “finish”
Setelah tertatih-tatih (ya, saya menggunakan istilah “tertatih-tatih” disini kiranya tidak berlebihan mengingat beberapa kali saya harus mengulang beberapa mata kuliah yang nilainya jelek – bahkan ada juga yang tidak lulus) menyelesaikan semua mata kuliah tingkat sarjana (S1) pada program studi Teknik Penerbangan – Fakultas Teknologi Industri – Institut Teknologi Bandung, akhirnya akupun hanya dihadapkan pada satu lagi kewajiban-akademis sebelum meraih gelar ST (insinyur, atau, saya lebih suka menyebutnya: “enjiniir”). Satu kewajiban tersisa itu adalah mengerjakan dan menyelesaikan “Tugas Akhir”/TA (setara dengan “Skripsi” pada disiplin ilmu sosial) yang berbobot lima SKS. Awalnya, aku mengambil SKS TA tersebut di semester 10-ku, namun karena suatu hal, aku terpaksa melepasnya (melalui PRS-Perubahan Rencana Studi) dan baru mengambil SKS TA itu pada Semester Pendek, di akhir semester genap yang tengah berjalan.
Waktu itu keputusanku mengambil SKS TA di semester pendek adalah agar aku bisa selesai secepatnya; ya, “selesai secepatnya” – sebuah harapan yang menggiurkan. Di kemudian hari, barulah kusadari, keputusanku waktu itu ternyata keliru. Harapan-indahku itu didasarkan pada asumsi-asumsi yang semu dan tendensi yang terlalu terburu-buru.
Mulailah aku berburu dosen pembimbing, siapa kira-kira yang cocok untuk membimbingku mengerjakan Tugas Akhirku itu. Sebelumnya, aku lebih dulu harus menentukan spesialisasi, sub-program studi, Kelompok Bidang Keahlian (KBK) atau apalah namanya yang mengidentifikasikan “grup”ku ke dalam konteks ilmu penerbangan (aeronautics and astronautics) yang menjadi ranah program studiku. Di prodi Teknik Penerbangan, ada beberapa KBK yang mengkaji dan mempelajari aspek-aspek tertentu dari ilmu penerbangan (nampaknya lebih tepat disebut sebagai “ilmu dirgantara”) yang cakupannya memang terhitung luas dan dalam. KBK itu adalah: (1) Aerodinamika; grup ini mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan “udara” dan berbagai atributnya. Bagaimana membuat sayap(-pesawat) yang efisien secara aerodinamis, bagaimana menghitung gaya angkat (lift) dan gaya hambat (drag) pada suatu pesawat-udara, hingga termasuk analisis sistem propulsi juga dibahas di KBK ini. Bagiku, KBK ini jelas-jelas terlalu njlimet dan sukar kukuasai (kumengerti). Namun, lucunya, bisa juga aku meraih nilai “A” pada sebuah mata kuliah cabang KBK ini, yaitu “Aerodinamika III” (weleh-weleh, kuliah Aerodinamika sampe ada tiga level tuh, gimana gak puyeng?) – sementara nilai mata kuliah Aerodinamika I dan II-ku berturut-turut adalah B dan C. Nilai Propulsi-ku juga dapet “B”, namun itu setelah ngulang sekali karena dapat E, hehehe (masih untung ngulang sekali, FYI, kuliah Aero II-ku tuh ngulang ampe 2x! Dan hanya bisa dapet nilai C! Huaahh, susah bin berat bener kuliah yang satu itu….O..seraaam). Wah, cukup dulu cerita tentang aerodinamikanya – ilmu yang menarik dan inti dari ilmu-penerbangan, meski susahnya minta ampyuuun…
KBK yang ke-(2) [adalah] Struktur. Grup ini lebih memfokuskan pada analisis struktur pesawat terbang. Struktur pesawat terbang umumnya menggunakan struktur semi-monocoque, yang berarti bahwa beban-beban (load and force) yang bekerja pada sebuah pesawat udara hanya ditahan oleh skin dan sebagiannya oleh rangka/tulang pesawat. Oleh karena itu, KBK ini umumnya mempelajari bagaimana menghitung tegangan (stress) yang terjadi/bekerja pada struktur pesawat terbang, apakah tegangan itu masih bisa diterima oleh struktur tersebut? Dan, kapankah struktur tersebut mengalami kegagalan (fracture)? Konsep-konsep utama yang dipakai di KBK ini berasal dari mata kuliah: Statika, Kinematika dan Dinamika, lalu berlanjut ke Mekanika Teknik, hingga ke Analisis Struktur Ringan, juga beberapa mata kuliah pilihan (Cacat, Komposit, damage tolerance, FEM-Finite Element Method dan lain sejenisnya). Bagiku, KBK ini juga masih terbilang berat, mengingat sebagian besar nilaiku pada mata-kuliah berbau Struktur tidak bagus-bagus amat. Padahal, konon kabarnya, KBK inilah yang paling banyak diminati oleh mahasiswa Penerbangan karena umumnya dianggap lebih ‘mudah’ sehingga mereka bisa lebih cepat lulus. Lagipula, ilmu-ilmu di KBK ini relatif lebih “umum”, sehingga bisa diterapkan di bidang lain – di luar bidang ke-penerbangan-an. Namun, menurutku, aku tidak cocok di Struktur.
KBK yang ke-(3) Fisika Terbang. Tak ingin berpanjang lebar, pokoknya di KBK ini mempelajari hal-hal seputar mekanika terbang (Dinamika Terbang dan Kendali Terbang) dan ilmu lainnya (Astrodinamika, Navigasi dan Panduan Terbang, dan lain sebagainya). Aku juga terang tak berselera dengan yang satu ini.
Nah, ini dia KBK yang menjadi pilihanku. KBK (4) Desain dan Operasi Penerbangan. Dulunya KBK ini terdiri atas dua KBK: KBK Desain/Perancangan Pesawat Terbang, dan KBK Sistrans (Sistem Transportasi). Kedua KBK tersebut lalu dilebur menjadi satu KBK saja, yang meliputi aspek-aspek: Perancangan Pesawat Terbang (nih kuliah juga bikin setengah-mati dan pusing 14 keliling! Huhuhu), Sistem Transportasi (mencakup Kelaikan Udara, Sistran, dan Manajemen Industri Dirgantara), juga seputar ilmu-ilmu perawatan pesawat terbang (Sistem-sistem Pesawat Udara, Perawatan Pesawat, dan lain-lain). Secara general, nilai akademisku di mata-kuliah KBK ini relatif ‘aman’: kalo gak bagus-bagus amat, yah, minimal standarlah..hehe. Inilah yang mendasariku untuk memilih KBK ini sebagai domain TA-ku, disamping pandanganku bahwa KBK ini tidak terlalu berat ataupun njlimet seperti yang lainnya.
Well, setelah menentukan grup KBK pilihanku, tinggal mencari dosen pembimbing dan meminta topik TA. Pilihanku pun jatuh kepada seorang dosen ber-madzhab Sistran yang rupanya spesialis bidang Keselamatan dan Keandalan Penerbangan. Setelah beberapa kali mengajukan “lamaran”, akhirnya akupun mendapatkan topik Tugas Akhir yang akan kukerjakan: yakni seputar masalah analisis pasar untuk mengembangkan operasi kargo udara (baru) secara spesifik.
Mulailah aku mengerjakan TA-ku itu. Sedianya objek pengambilan datanya hanya di sekitar Bandung saja, namun, demi memenuhi permintaan orang tua yang mengharapkan anak-sulungnya mau kembali sejenak ke (kampung halaman) Makassar, akhirnya penelitian dan pengumpulan data pun dialihkan ke kota yang panas itu. Bertepatan dengan liburan semester genap, meski jadwalnya molor kurang lebih dua minggu, menjelang akhir Juni 2007, aku pun berangkat menuju Makassar : demi penelitian, sekalian liburan dan bertemu keluarga yang dirindukan.
Proses panjang pun dimulai, dalam rangka mengumpulkan satu demi satu bahan-bahan, data-data ataupun informasi yang berarti. Tak lupa, sebelum itu semua, ngurus-ngurus masalah perizinan dulu... ahh, birokrasi lagi... Meskipun terhitung lancar, pengurusan masalah birokrasi ini juga memakan waktu yang melebihi perkiraanku.
Penelitian ataupun pengambilan data di lapangan pun lebih ‘kocak’ lagi. Meski di kampung sendiri, tapi mentang-mentang bawa nama Perguruan Tinggi di tanah Jawa (tepatnya, tanah Sunda) ada juga hambatan-hambatan yang kutemui. Mulai dari prosedur yang ribet, mekanisme perolehan data yang lelet, dicuekin, sampai ‘pemerasan-halus’ sebagai imbal-jasa pemberi data. Wah, cemmana pulak niy... Akhirnya, kemoloran itupun berlipat-masa... Jadwal penelitian di Makassar yang direncanakan tidak lebih dari sebulan malah menjadi dua bulan!
Akupun kembali ke Bandung, dengan niat mengerjakan analisis data dan penulisan laporannya disana saja, agar lebih fokus dan rencanaku berjalan mulus. Tapi, itu hanya diangan-angan saja…
Mendadak, aku memiliki kesibukan baru yang cukup menyita waktuku: menjadi asisten dosen pembimbingku, membantunya dalam beberapa proyek yang dikerjakannya. Dari dulu juga aku tak ada rencana untuk terlibat dalam yang namanya proyek-proyekan. Tapi, setelah diajak oleh senior yang juga membantu dosen pembimbingku itu, dan selain melihat posisi dosen itu sebagai “pembimbing” TA-ku, akupun setuju untuk ikut membantu….
Begitulah, alokasi waktuku terpecah… Sayangnya, aku bukanlah orang yang pandai membagi dan mengatur waktu. Jadilah, aku lebih banyak menghabiskan waktu mengerjakan proyek dosen, daripada mengerjakan “proyek”ku sendiri. Iming-iming insentif/honor menjadi daya tarik tersendiri yang sukar kupungkiri. Mencari pengalaman (bekerja), menambah koneksi/relasi, serta membayar ‘mahar’ kompensasi juga menjadi justifikasi yang kuamini sendiri…
Kurang lebih tiga bulan aku bergulat dengan rutinitas sebagai pekerja proyekan (yang mana umumnya tugasku hanya menyiapkan laporan, atau jika diminta, mencari data). Selama itu pula aku mengabaikan dan –seolah-olah– melupakan tugasku yang lebih utama : TA.
Kesadaranku pun mencuat kembali pada akhir-akhir bulan November, hingga menjelang Desember 2007. Kuputuskan untuk mengurangi porsi keterlibatanku dalam proyek, agar bisa memfokuskan diri untuk menyelesaikan TA itu dalam sisa waktu yang ada. Nahas ! Tiba-tiba posisiku menjadi kian signifikan dalam pekerjaan proyekan. Hal ini terjadi karena seniorku – yang mengajakku ikut proyek tersebut – mendapatkan beasiswa S2 ke Malaysia. Mau tidak mau, aku lah yang harus menggantikan posisinya sebagai asisten pertama yang membantu setiap proyek yang ada. Di satu sisi ada kebanggaan dan merasa ini peluang berharga bagiku, di sisi lain ada perasaan « terjebak » dalam situasi yang berkembang begitu cepat. Dan aku tak bisa menolak ! Aku bukanlah seorang yang mudah berkata « tidak ». Maka, waktupun kian berlalu... sementara tugas utamaku (TA) menjadi kian tak tentu....
Sebuah “quick-start” perjalanan baru
Dalam masa yang kian singkat terasa itu, akupun mencoba berpacu dengan waktu. Aku mengejar dua hal (proyek dan TA) yang harusnya lebih kuutamakan salah satunya (TA saja). Hari-hari pun berjalan cepat, dengan tuntutan yang semakin berat. Rutinitas itupun semakin berlipat : siang hari mengerjakan proyek, malam hari (asal) mengerjakan TA – keduanya berlangsung di tempat yang sama ; ruang laboratorium pak dosen. Tak lama bagiku untuk menjadi « makhluk-malam » yang berkeliaran hampir setiap hari di sekitar kampus....
Hingga pada suatu malam, ketika aku sedang asyiknya mengerjakan TA-ku, si Ruli – teman karibku – memberitahukan sebuah info. Isinya adalah terbukanya lowongan pekerjaan di sebuah perusahaan (maskapai) penerbangan nasional. Ia – yang baru saja menjadi fresh-graduate – tertarik untuk mencoba melamar di perusahaan yang berkembang pesat itu, dan ia pun mengajakku kalau aku mau. Sejenak aku berfikir, menimbang-nimbang, apakah peluang itu pantas untukku ? ‘’Aku ‘kan belum lulus ‘’, ucap batinku. Tapi akalku membantah. ‘’Ini adalah kesempatan, yang harusnya tidak dilewatkan begitu saja. Minimal, aku bisa menyiapkan diri menghadapi serangkaian tes ataupun wawancara dalam rangkaian lamaran kerja nantinya’’. Akupun setuju.... « Toh, hanya coba-coba saja »....
Awal langkah itu adalah minggu ketiga di bulan Desember. Aku dan beberapa teman-temanku (semuanya fresh-graduates kecuali aku yang masih belum lulus) lalu mengadu nasib ke Jakarta.
Semuanya terjadi begitu cepat, dan terkesan begitu terburu-buru. Tes pertama (Psikotest) dilalui, tes kedua (Wawancara) dilewati, tes ketiga – terakhir – (medical check) pun telah dijalani. Dan, akhirnya, siapa kira, aku termasuk yang beruntung diterima di perusahaan bersimbol Singa itu (sesuai dengan simbol bulan kelahiranku, hee...). Dari kami berenam – semuanya sama-sama dari Penerbangan ITB – empat diantaranya (termasuk aku) diterima sebagai tenaga baru pada bagian Engineering–Technical Service.
Lucu. Mengingat dua temanku yang belum keterima itu sudah menyandang gelar ST, sementara aku yang notabene masih menyandang ‘gelar’ Mahasiswa (hampir-abadi) yang justru diterima bersama ketiga teman lainnya. Lucunya lagi, prosesi dan timing perekrutan itu terjadi begitu cepat; kurang dari dua minggu – dari awal kami tes sampai pengumuman diterima. Dan, yang tak kalah lucunya juga, tes-tes itu aku jalani tanpa persiapan yang berarti. Psikotesnya terkesan asal-asalan (dari penyelenggaranya terlihat kurang serius, dan akupun kurang siap). Wawancaranya tiga tahap (pertama, dengan senior engineer – nanya-nanya aspek teori/akademis; kedua, dengan konsultan – nanya-nanya basic knowledge & engineering, but in english bo’, secara doi orang Philipina; dan ketiga, dengan manajer tekniknya, yang kelak menjadi boss-ku) kujalani dengan tegang. Dan, akhirnya, medical test, hanya kulalui dengan pasrah…
Aku keterima euy! Di sebuah perusahaan general aviation yang –menurutku– berkembang pesat. Bersyukur, karena aku sudah diterima bekerja sebelum aku lulus kuliah. Dan, bersyukur lagi, karena aku bisa bekerja di bidang yang sesuai dengan latar belakang akademisku – padahal sebelumnya aku mengira orang dengan kemampuan dan ilmu pas-pasan sepertiku ini tak akan bisa diserap di industri dirgantara. Dan, bersyukur lagi, karena posisi dan statusku di perusahaan itu dianggap sama seperti karyawan/tenaga baru lainnya yang berkualifikasi S1 – dan tentunya gajinya pun sama, heehee..
Euphoria ini tidak begitu lama bertahan, sebab akupun dihadapkan pada masalah dan tantangan baru yang menghadang. Pertama, aku harus segera menyelesaikan TA-ku – agar bisa lulus Maret ini. Kedua, aku harus berbicara kepada dosenku perihal keterlibatanku di proyeknya. Dan ketiga, akupun harus segera menyiapkan dan menyesuaikan diriku untuk bekerja dengan baik di perusahaan yang telah menerimaku tersebut.
Apesnya, mereka (pihak perusahaan) menginginkan (membutuhkan) aku bisa bekerja per Januari 2008 ini. Kucoba mengajukan permohonan dispensasi, mengingat TA-ku belum selesai. Namun, mereka menolak. My boss just give me some dispensation by letting me go to Bandung for consultation with my counselor, and it only allowed by the weekend time. Mengingat akhir minggu bukanlah waktu yang tepat untuk bimbingan, akupun mengajukan usul agar waktunya digeser hari Senin dan Selasa, jadi Senin Selasa aku di Bandung, Rabu sampai Minggu aku masuk kerja. Deal. Bosku setuju.
Mulailah aku menapaki jenjang baru sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta. Akupun ikut larut dan tenggelam dalam rutinitas serta pola kerja di perusahaan tersebut. Pada masa-masa awal itu, yang seharusnya merupakan masa beradaptasi dan perkenalan lingkungan-kerja, kami sudah dituntut untuk bisa langsung meng-handle pekerjaan/tugas yang dibutuhkan.
Sial. Aku lalu berbuat sebuah kesalahan kecil. Kesalahan – yang meskipun kecil dan sepele – namun nyatanya membawa dampak yang begitu besar. Aku melewatkan proses pendaftaran semester baru (semester ganjil)!
Entah mengapa aku bisa begitu lupa dan lalainya akan masa pendaftaran itu. Yang jelas, aku tidak mendaftar untuk semester berikutnya. Dan hal ini, membuat status kemahasiswaanku di rektorat tidak jelas. Aku baru mengetahui ihwal pendaftaran tersebut setelah beberapa waktu dimana masa pendaftaran ulang tersebut telah usai. Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar bahwa Kepala Prodi mencariku, sehubungan dengan kasusku ini.
Akupun mencoba bergerak cepat, mencoba menyelesaikan semuanya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sekarang aku punya dua beban yang keduanya tak dapat kuabaikan: sebagai mahasiswa tingkat akhir yang belum menyelesaikan TA-nya plus masalah administratif tadi – dan sebagai karyawan baru yang harus segera beradaptasi, bekerja dengan baik, dan melaksanakan tugas dengan profesional.
Namun, seperti kata pepatah: “malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih”. Setelah bolak-balik Bandung-Jakarta untuk urusan studi dan kerja, lalu bersusah-payah berkejaran dengan deadline seminar/sidang TA, yang juga terhalang oleh masalah administrasi di rektorat, usahaku pun menemui kegagalan. Meski aku berhasil membujuk dosen pembimbingku untuk diberi kesempatan bisa seminar, namun seminar itu urung dilaksanakan. Penyebabnya adalah beliau mengatakan analisisku masih kurang satu bagian lagi, sehingga aku perlu mengerjakan analisis tersebut. Ia menginginkan esoknya analisis tersebut sudah selesai – dengan benar – dan format laporannya sudah selesai semua, agar bisa diseminarkan. Tapi, sayangnya, demi mengejar pesanan sang pembimbing, laporan dimaksud baru selesai pada sore harinya – ketika sang pembimbing sudah pulang ke rumahnya.
Tak lupa akupun berdiskusi dan curhat kepada Pak (Doktor) Taufiq Mulyanto, dosenku yang juga menjabat sebagai Sekertaris Prodi, lalu aku menghadap kepada Pak (Doktor) Leonardo Gunawan – Kepala Prodiku – untuk meminta solusi atas masalahku, namun hasilnya nihil. There’s no way to make a shortcut. Aku harus menunggu semester berikutnya, katanya….
Yaaah, begitulah kisah perjalanan panjang dan lika-liku pengembaraanku dalam babak kehidupan yang baru.
Setelah tahu tak ada lagi yang bisa kuperbuat – dalam urusan studiku – selain menunggu kloter berikutnya, aku hanya bisa pasrah dan menerima situasi ini; situasi yang sejatinya terlahir dari ulahku sendiri. Beruntung, Tugas Akhir yang telah sekian lama kuterlantarkan kini telah rampung kukerjakan. Hanya Seminar dan Sidanglah yang akan menjadi tahapan terakhir sebelum aku bisa menyempurnakan tingkatan studiku di Kampus Cap Gadjah Doedoek itu…
Kini, aku tak mau berlarut-larut dalam suasana kalut….
Beruntung, aku punya kesibukan lain, ada tanggungjawab baru yang menunggu. Aku telah diterima bekerja, dan aku harus membayar kepercayaan yang diberikan kepadaku dengan sebaik-baiknya. Minimal menunjukkan bahwa aku memang memiliki kemampuan (kapabilitas dan kapasitas) untuk menunaikan tugas yang diemban. Dan, dengan begitu, setidaknya, aku telah memberi kontribusi kecil untuk memutihkan nama almamaterku yang – konon – kian merosot.
Segala Puji Bagi Allah dalam setiap keadaan…
Segala puji bagi-Nya yang menetapkan seluruh perkara berdasarkan qadar (ukuran)...



0 komentar:
Post a Comment